Sabtu, 18 Februari 2017

Apa Mungkin Istriku Dewi Sri?

Ini cerpen pertama saya yang di muat tahun ini oleh tatkala.co. silahkan di lihat sendiri ya kawan. di bawah saya sertakan alamatnya, tinggal klik:

Apa Mungkin Istriku Dewi Sri?

Minggu, 12 Februari 2017

Mata Pisau, Sapardi Djoko Damono

Menemukan buku tua berdebu dengan gambar sampul yang tidak menarik, di tambah kertasnya juga sudah menguning, barangkali karena usia buku sudah terlampau uzur. Namun di sudut buku tertulis nama penyair besar. Menurut saya itu serupa menemukan gadis cantik, pintar, baik, dan yang paling penting mau di ajak berkencan. Barangkali seperti itulah rasanya.

Pada suatu hari—saya lupa tepatnya hari apa. Saya berkunjung ke perpustakaan kota Lamongan. Pagi itu pengunjung tidak terlalu banyak, meja-meja baca banyak yang kosong dan seperti biasanya perpustakaan menjadi hening. Dan saya suka itu. Waktu itu saya sudah berada di rak paling pojok di sebelah barat daya. Disitulah buku-buku sastra berdiam dan merana karena tidak ada pembaca. Saat itu saya iseng mengubrak-abrik buku-buku yang di terbitkan oleh balai pustaka sekitar tahun 80-an. Yang kebanyakan sampulnya sudah kusam.

Nama-nama yang mendominasi adalah Marah Rusli, Abdoel Moeis, NH Dini, dan kawan-kawannya. Itu saya lakukan setelah saya bosan dengan rak atas yang di dominasi penulis-penulis kontemporer. Di situ ada Dee Lestari, dengan Petir. Tere Liye, dengan Ayahku Bukan Pembohong, dan seorang lagi yang datang dari India sekaligus peraih Man Booker Internasional Prize, Aravind Adiga dan The White Tiger nya. Mereka luar biasa saya sudah membaca ketiganya. Itulah kenapa saya beralih ke rak bagian bawah, di mana buku-buku berdebu dan kusam berdiam. Nama-nama asing mulai saya baca, dan saya menggeleng siapa mereka?

Jari jemari saya tidak berhenti memilih dan memilah buku, dan pada akhirnya saya tidak menyangka telah menemukan si perempuan cantik dan amat menggoda. Nama Sapardi Djoko Damono dengan Mata Pisau, buku kumpulan puisinya. Bukan main rasa senang saya menemukan Bapak Sapardi dan sehimpun sajak-sajaknya. Saya tidak mengira Bapak satu ini juga berdiam di rak sastra. Tidak pikir panjang saya langsung mencomotnya dan memasukkan dalam daftar pinjam saya.

Oh, iya maaf jika sejak tadi saya hanya bercerita tidak jelas tentang sepotong kejadian. Jika mendengar frasa barusan, sepotong kejadian, saja jadi teringat dengan buku kumpulan puisi yang akan dan sedang kita bicarakan ini. Saya merasa kebanyakan dari puisi-puisi Sapardi Djoko Damono dalam Mata Pisau adalah sepotong kejadian. Yang mana terkadang absurd, terasa hening, sunyi, menyenangkan, dan barangkali amat melankolis. Namun sekali lagi semuanya seolah tampak sederhana di tulis dengan kata-kata yang sederhana, dan sering kita jumpai di sekitar kita namun tampak mengesankan. Metafora dan analogi nya pas. Tidak kurang tidak lebih.

Membaca sajak itu satu-persatu tidak membuat saya merasa ingin segera menyelesaikannya, malah sebaliknya. Persis seperti ketika saya membaca buku-buku bagus lainnya. Saya selalu berharap buku itu tidak lekas habis, dan kalau bisa halamannya dapat bertambah. Mungkin terdengar agak ngawur, tapi ya begitulah saya ketika berjumpa dengan buku bagus.

Di sampul belakangnya saya melihat foto Sapardi di usia mudanya. Mengesankan dan acak-acakan, sebagaimana mahasiswa sastra pada umumnya.

Mungkin puisi bagus memang seperti itu di tulis dengan sederhana dan seolah merekam sepotong kejadian yang tampak mengesankan. Puisi yang paling saya suka dalam buku itu adalah, Berjalan Kebarat Waktu Pagi Hari. Tempo hari saya sempat menonton di You Tube, Sapardi Djoko Damono, di samping sebuah tanaman sedang membacakannya dengan syahdu. Dan itu membuat hati dan pikiran saya kembali nyaman. Begitulah puisi yang saya tahu.

Senin, 06 Februari 2017

Dan Brown, Lisa Rogak

Ia memulai kariernya dari seorang penulis lagu, kemudian merambat menjadi penulis buku komedi, yang merupakan kontrak dari sebuah penerbit. Hingga akhirnya ia memilih untuk focus dalam dunia kepenulisan. Menjadi penulis novel purna waktu. Itulah Dan Brown, seorang penulis novel yang penjualan bukunya mengalahkan penjualan al kitab.

Dari buku biografi Dan Brown yang di tulis oleh Lisa Rogak, menceritakan banyak tentang kisah hidup Sang Novelis.

Saya tidak tahu dari mana mau mulai menceritakan kisah hidupnya, saya sedikit bingung sebab seluruh tahap yang di lalui Dan Brown untuk menulis novel memang sangat menarik untuk di simak.

Essai Pertama Dan Brown saat di bangku kuliah mendapat koreksi besar-besaran dari dosennya, 90% tulisan Brown di pangkas karena mengandung kata sifat. Dan mulai dari situ ia mendapatkan pernyataan, "Lebih Sederhana lebih baik.", Begitu ujar Mr. Heath, yang memberi nilai C-minus pada essainya.

Memang pada dasarnya Dan Brown memiliki kecintaan pada menulis fiksi dan menulis lagu. Setelah ia lulus dari Phillips Exeter Academy ia berkarier dulu dalam dunia musik sebagai penulis lagu sebelum akhirnya ia menemukan Blythe, seorang perempuan yang usianya 12 tahun lebih tua dari Brown, perempuan inilah yang nantinya akan menjadi istri Dan Brown, sekaligus menjadi perempuan yang selalu mendukung dan membantunya dalam menyelesaikan novel-novelnya.

Dari buku ini saya suka konsistensi Brown dalam menulis, ia selalu bangun pagi jam 4 untuk menulis. Katanya itu adalah waktu dimana kreativitasnya memuncak dan sekaligus waktu luang di mana ia tidak memikirkan kesibukan-kesibukan lainnya. Sebelumnya memang Brown adalah seorang guru bahasa Inggris di suatu sekolah.

Yang paling saya suka dari buku yang di tulis Lisa Rogak tentang Dan Brown adalah:

"Brown tahu sebagian novelis menulis secara spontan, memulainya dengan ide atau gambaran, lalu menulis untuk mencari tahu kemana semua itu mengarah. Dalam karya literatur bertempo lamabat dan ketegangan bukan bagian penting dalam plot, Brown bisa memahaminya. Namun, jenis cerita yang ingin di tulisnya bergantung pada pembentukan banyak ketegangan, menjaga agar para pembaca tetap menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya, dan memasukkan banyak kejutan—dengan kata lain, novel yang membuat penasaran agar terus dibaca. Menurut Brown, hal seperti itu tidak terjadi begitu saja, kau harus merencanakannya."

Kau harus merencanakannya, saya setuju jika sekaligus baru mengerti jika memang kebanyakan penulis novel mulai menulis dengan ide dan gambaran saja, hingga akhirnya ia menulis untuk mencari tahu, mau kemana tulisan itu. Sementara Dan Brown bekerja dengan merencanakan. Barangkali itu semacam membuat kerangka cerita dulu sebelum menulis cerita. Beberapa penulis ada yang melakukannya dan beberapa ada yang tidak. Jujur saya adalah penulis yang tidak membuat kerangka cerita sebelum menulis, namun saya juga pernah membuat kerangka cerita dalam menulis cerita. Kadang saya berpikir saya terlalu naif, atau barangkali terlalu malas untuk memperbaiki cerita.

Dari buku ini, kurang lebih saya mengerti tentang kehidupan seorang novelis yang akhirnya buku pertama dan kedua cetak ulang setelah buku selanjutnya menuai kesuksesan. Mungkin seperti itulah hukum pembelian dalam dunia penjuan buku. Bagaimana rasanya di gugat dan diserang ketika bukumu sukses. Dan bagaimana seorang penulis ingin menyendiri dan menetap di daerah yang asing karena ingin menyelesaikan buku selanjutnya. Dan dari sini juga saya tahu jika Dan Brown pada usia 5 tahun telah menulis buku yang kemudian ia beri judul, The Giraffe, the pig, and the Pants on Fire.

Minggu, 29 Januari 2017

Pengaruh Tempat dalam Sebuah Cerita

Urusan tempat dalam sebuah cerpen atau novel ternyata bisa menjadi urusan yang sangat kompleks. Saya baru menyadarinya beberapa saat yang lalu setelah Eka Kurniawan membahasnya, di sebuah artikelnya yang di muat jurnal On/Off. Ketika selesai membaca itu, barulah saya merenung dan akhirnya tersadar.

Latar tempat memang membuat beberapa cerita terlihat menarik dan sekaligus memberikan kesan tersendiri. Saya teringat cerpen Aksara Amananunna, Rio Johan. Cerpen itu membuat saya tertarik dari awal hingga akhir. Pasalnya dalam cerpen itu tempat-tempat yang di gunakan dalam setiap adegan ceritanya adalah tempat rekaannya sendiri. Seolah-olah cerita itu memang terjadi di suatu tempat di dunia ini, namun entah di mana cerita itu berlangsung. Pada adegan pertama cerita di mulai ketika Amananunna nampak kebingungan dengan telinga dan mulutnya yang tidak bekerja sebagaimana orang normal, itu terjadi di ziggurat raja Nimrod.

Selanjutnya dari ziggurat raja Nimrod, Amananunna berkelana ke tempat-tempat jauh, di padang pasir, dan semacamnya. Hal itulah yang membuat saya secara tidak sadar telah membayangkan tempat yang gersang, bar-bar, dan liar. Sehingga yang terjadi pada Amananunna pun serupa sekali waktu ia harus menerima perlakuan tidak baik, sekali waktu ia juga harus memakan kadal dan rumput karena tempat itu terlalu gersang. Mungkin seperti inilah peran tempat dalam pengaruh suatu adegan. Dalam suatu wawancara Rio Johan menciptakan tempat rekaannnya berasal dari game-game yang sering ia mainkan.

Sementara dalam novel Lelaki Harimau, Eka Kurniawan. Saya membayangkan perkampungan yang tempo dulu, dan masih di penuhi oleh benda-benda yang hanya ada pada jaman dulu, semisal layar tancap, sirkus keliling, surat cinta, dan tentunya mitos-mitos yang mempengaruhi cerita. Berhenti di mitos, barangkali inilah yang membuat cerita tampak menarik. Dan perlu di sadari tiap daerah punya mitosnya masing-masing, atau boleh di sebut juga sejarahnya masing-masing, semisal legenda, kebudayaan, dan hal-hal kecil yang perlu di gali untuk membuat pembaca percaya bahwa cerita itu memang benar-benar terjadi di tempat tersebut.

Hal inilah yang sekali waktu membuat saya bertanya-tanya apa saja hal-hal menarik yang di miliki kota saya dan tidak di miliki oleh kota-kota lain. Di novel Tempat Paling Sunyi, Arafat Nur telah memperkenalkan Lamlhok dengan segala konflik peperangannya. Dalam Metafora Padma, Bernard Batubara sedikit banyak telah memperkenalkan Pontianak dengan segala konflik antar suku yang telah terjadi di sana, meskipun dalam beberapa cerita, Bernard Batubara menginisialkan suku-suku tersebut.

Sebagaimana Bernard Batubara juga telah mengatakan yang intinya, penulis Indonesia harus menulis tentang Indonesia. Dan ia telah melakukannya dalam buku-bukunya. Mungkin ini PR bagi saya, untuk menulis Lamongan sebagai latar cerita tempat yang menarik. Barangkali ketika saya membacanya ulang, Lamongan akan tampak menarik dan keren, seperti Manhattan, Padang, Bone, Paris, New Hamspire, Shinjuku, Lamlhok, Pangandaran dan beberapa kota yang telah di kenalkan penulisnya pada dunia.

Sabtu, 28 Januari 2017

Perjalanan dan Pertumbuhan Saya

Dari mana datangnya anak kecil ingusan seperti saya yang dengan lancang berani menulis buku yang saya sebut dengan percaya diri, itu sebuah novel. Pertamakali saya menulis, saya adalah anak kecil yang tak mempunyai rasa takut dan terlalu banyak memiliki keberanian.

Andrea Hirata lah yang mengajari saya tentang menulis itu, hingga akhirnya saya menulis novel saya sendiri. Tanpa rasa takut dan menganggap gampang semuanya, tidak tanggung-tanggung novel saya itu memiliki 338 halaman. Itu cukup tebal dan benar-benar melelahkan untuk di baca. Seorang teman mengatakan pada saya bahwa rasa tulisannya, rasa Andrea Hirata.

Wajar saja, saat itu saya baru mengenal Bang Andrea, sebagai penulis paling top dan tak ada duanya. Sehingga tak tanggung-tanggung saya menghabiskan ke delapan bukunya selama proses menulis novel saya yang pertama itu, barangkali ini semacam pencarian referensi menulis novel. Sehingga akhirnya sedikit banyak, di sudut-sudut novel saya, aroma atau gaya Bang Andrea yang khas nampak di sana sini. Barulah di kemudian hari, saya mengerti kebanyakan penulis pemula melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan, dan tekhik itu di sebut banchmarking. Jika tidak salah itu istilahnya, maaf saya agak lupa-lupa ingat.

Kemudian selama perjalanan menulis saya terus membaca dan membaca, kemudian mengenal A. Fuadi, Tere Liye, sedikit berbelok pada buku-buku Non fiksi saya berkenalan dengan Agus Mustofa dan ilmu-ilmu tasawufnya yang membuat saya kagum dan sedikit banyak mengerti tentang agama, masih dalam ranah agama saya berkenalan dengan Ahmad Rifa'i Rifan, M Husnaini, Irvan Syaifullah yang ternyata dan patut saya syukuri adalah orang-orang Lamongan. Dari merekalah saya mengenal lebih dalam tentang agama saya sendiri. Dan melalui Pak M Husnaini saya dipersilahkan masuk dalam grup kepenulisan SPN yang beranggotakan orang-orang besar beliau adalah Pak Hernowo, Pak Much. Khoiri, Pak Ngainun Naim, Prof. Muhammad Chirzin, Mas Haidar Musyafa. Dan orang-orang hebat yang jago dalam kepenulisan di genre-nya masing-masing.

Di grup SPN itulah beberapa tulisan saya termuat dan di terbitkan dalam buku-buku antologi. Tidak berhenti di situ saya, menjamah majalah dan koran-koran. Disanalah saya mulai merasa kecil, tidak berarti, bukan siapa-siapa, tidak tahu apa-apa, tapi terkagum-kagum pada nama-nama hebat yang berhasil mencantumkan namanya di sebuah koran. Itulah yang membuat saya bertahan hingga kini. Dan mengenal nama-nama besar seperti A.S Laksana, dan Murjangkung-nya yang berisi cerpen-cerpen hebat yang pada waktu itu membuat kepala saya puyeng tidak bisa mencerna itu cerita apa. Lalu sekaligus berkenalan dengan Bernard Batubara, dengan cerpen-cerpen nya yang saya rasa bernuansa kontemporer, Fantasi, surealis, seperti yang berada di bukunya, Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri, juga Metafora Padma. dan membuat saya pada akhirnya harus belajar banyak darinya tentang cara-cara menulis fiksi dan ulasan-ulasan buku.

Saya rasa disini saya harus berhenti sejenak dan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya dan sebanyak-banyaknya pada bang Bara. Yang telah membuka pintu dan mengenalkan saya pada penulis-penulis lainnya. Seperti M. Aan Mansyur, Faisal Oddang, Eka Kurniawan, Etgar Keret, Haruki Murakami, Budi Darma, Mahfud Ikhwan, dan masih banyak lagi. Namun setelah mengetahui nama-nama besar itu, pada akhirnya akan membuat saya menatap diri saya sendiri dan bertanya, sudah pantaskah nama saya di tulis diantara nama-nama besar itu?

Lalu tanpa menjawab pertanyaan konyol itu, pada akhirnya saya akan kembali membaca buku-buku, istirahat sejenak, membaca buku-buku lagi, lalu menulis agar kelak bisa seperti mereka. Dan entah mengapa saya terlalu ambisius ingin seperti mereka. Dan pada akhirnya, yang paling akhir saya akan berdoa semoga Allah meridhoi keinginan saya ini.

Rabu, 25 Januari 2017

Menjadi Salah Satu yang Mustahil


Catatan ini saya tulis ketika saya benar-benar tak mempunyai jawaban atas segala apa yang ada didalam kepala saya. Saya tidak tahu mana yang harus saya dulukan terlebih dahulu, apakah keinginan saya untuk menjadi penulis atau sebuah permintaan bantuan dari seorang teman, agar saya menjadi ketua sebuah organisasi kampus.

Ketika saya membaca biografi dari seorang Dan Brown, untuk menjadi seorang novelis ternyata butuh pengorbanan yang luar biasa. Dan Brown adalah seorang penulis novel yang penjualan bukunya mengalahkan penjualan Al Kitab. Sebenarnya saya sendiri belum pernah membaca satupun dari novelnya. Hanya saja saya pernah membaca ulasan dari seorang penulis tentang bukunya yang berjudul The Davinci Code, ia mengatakan itu adalah buku kedua yang mampu membawanya terhanyut ke dalam cerita novel, tidak seperti novel-novel yang biasa ia baca. Sebagiamana penulis novel, saya juga merasakannya. Setiap kali membaca novel-novel bagus saya biasanya akan membacanya secara jeli, memperhatikan tanda baca, memperhatikan bagaimana penulis memainkan analogi dan metafora, konflik cerita, Point Of View, narrator atau siapa yang menjadi pengkisah dalam cerita, dan tentunya masih banyak lagi yang bisa di perhatikan secara jeli. Namun tanpa di sadari atau tidak cara membaca seperti ini benar-benar sangat melelahkan. Dan membuat mata saya sesekali buka tutup dan secara keseluruhan saya kurang menikmati ceritanya. Namun kata seorang penulis yang mengulas The Davinci Code. Buku itu telah melupakan segalanya, membuatnya benar-benar hanyut dalam cerita yang di tulis Dan Brown.

Saking luar biasanya novel tersebut. Si penulis tadi menyebutkan bahwa novel itu adalah novel yang selalu ia bawa kemana-mana dan membuatnya selalu penasaran dengan kelanjutan cerita. Dan dalam buku biografi Dan Brown yang di tulis oleh Lisa Rogak, selama penulisan bukunya Dan Brown mengorbankan banyak hal; meninggalakan pekerjaannya sebagai guru di sekolah; meninggalkan kariernya dalam dunia music sebagai seorang penulis lagu. Seperti itulah Dan Brown bekerja untuk menulis novel, sehingga yang terjadi novelnya membuat seorang penulis lupa akan tugas mengamati dan benar-benar hanyut dalam cerita. Itu artinya untuk menulis novel yang bagus dan berkualitas kita harus memberikan focus tersendiri terhadap bidang yang ingin di tekuni. Meski harus mengorbankan banyak, tapi untuk hasil yang memuaskan segala pengorbanan sepertinya harus di lakukan. Sebagaiman pepatah mengatakan, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, barangkali seperti itu.

Sementara andaikata kita memiliki pekerjaan yang luar biasa sibuknya atau luar biasa repotnya apa mungkin kita akan dapat membuat novel yang bagus, semacam novel The Davinci Code. Sepertinya saya lupa sesuatu. Dalam buku biografi yang di tulis Lisa Rogak tadi, Dan mengatakan selama proses pengerjaan novelnya ia selalu bangun jam 4 pagi untuk menulis novel, menurutnya itu adalah waktu dimana proses kreatif untuk menulis sedang melimpah. Sementara di luar jam itu banyak kesibukan yang harus Dan kerjakan. Termasuk riset untuk novel yang tengah atau akan ia kerjakan.

Barangkali ini adalah sebuah tantangan, sebagai seorang penulis tidak seharusnya kita banyak mengeluh tentang kesibukan, tentang lingkungan yang kurang kondusif, tentang jurusan kuliah yang salah atau perkara-perkara lain yang seenaknya kita buat-buat sebagai alasan kenapa kita tidak bisa menulis secara produktif. Dalam agama saya mengajarkan Allah menguji suatu hambanya tidak melebihi batas kemampuan hambanya. Bukankah itu sudah jelas bahwa tidak ada alasan untuk mengeluh. Sebagaimana kita tahu, orang akan menganggap kita hebat ketika beban yang kita tanggung terlalu berat dan cenderung mustahil. seorang perawat tidak mungkin menulis novel karena bukan dari jurusan sastra. Seorang yang bukan siapa-siapa tidak mungkin menjadi siapa-siapa. Seorang yang miskin tidak mungkin sekolah tinggi-tinggi. Seorang perempuan tidak mungkin menjadi sopir truck. Seperti itulah barangkali apa yang di katakana mustahil bagi kebanyakan orang. Dan coba bayangkan bagaimana jika kau adalah seseorang yang mampu mematahkan kata mustahil itu dan menunjukkan pada mereka bahwa kau adalah orang yang mampu menghancurkan kata mustahil tadi.

Oleh karena itu saya rasa tidak ada salahnya untuk membantu serang teman dan tetap membawa apa yang menjadi keinginan kita, meski jalan untuk mencapai keinginan itu agak terasa berat, jika kita pikirkan secara rasional. Namun perlu di catat kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Semuanya adalah rahasia ilahi, Allah selalu ada untuk hamba-hambanya yang meminta pertolongan.[]


Minggu, 22 Januari 2017

Kumpulan Puisi: Main Ayunan dan Bunga Krisan

Ini adalah puisi-puisi saya yang pertama kali di muat di tahun 2017. Sebagai catatan puisi-puisi ini saya tulis ketika saya sedang menjalani praktek klinik di Puskesmas Kembangbahu. Setidaknya dengan ini saya pernah menulis puisi di Puskesmas Kecamatan. Langsung saja di bawah saya sertakan alamat pusi-puisi saya. Sila di baca dan selamat kehilangan.

Main Ayunan dan Bunga Krisan: Puisi Fatah Anshori

Rabu, 18 Januari 2017

Ekaristi, Mario F Lawi

Kali ini puisi-puisi Mario F Lawi yang harus kita bicarakan sebentar. Pertama saya mengenal nama  Mario adalah ketika membaca puisi-puisinya yang di muat Basabasi.co beberapa minggu yang lalu. Saya tidak begitu ingat judulnya, hanya saja ketika saya membaca puisi itu saya lantas teringat pada sebuah nama di antara buku-buku yang tertumpuk di meja kamar saya. Ketika pulang saya lantas mencarinya, dan tidak salah nama Mario F Lawi berada diantara tumpukan-tumpukan buku yang belum saya baca.

Itulah pertama kali saya betul-betul mengenal nama Mario F Lawi dan puisi-puisinya. Setiap kali mengenal penulis baru saya selalu penasaran dengan biografinya terutama tanggal lahir dan latar belakang ia menulis. Ketika mengetahui tanggal lahir setiap penulis saya selalu membanding-bandingkan dengan tanggal lahir saya sendiri. Jika ia lebih tua dari saya, yang kemudian saya lakukan adalah menghitung di umur berapa ia bisa menulis buku yang bagus-bagus dan berapa karya yang telah ia terbitkan. Lalu di hati, seperti ada tekad atau semacam keinginan membuat target di umur yang sama kurang lebih saya harus bisa seperti dia. Sebaliknya jika ada, penulis yang lebih muda atau seumuran dengan saya namun karyannya sudah di akui masyarakat luas, semisal itu adalah Faisal Oddang—yang seumuran dengan saya, kelahiran 1993-1994, dia telah meraih penghargaan cerpen terbaik pilihan kompas di tahun 2014—atau Surya Gemilang—yang lebih muda empat tahun dari saya, ia kelahiran 1998, di usianya yang begitu muda beberapa cerpen dan puisi-puisinya telah banyak di muat di beberapa media. Sementara Mario F Lawi sendiri, kelahiran 1991 lebih tua tiga tahun dari saya, juga sudah menulis beberapa buku.

Begitulah saya tertarik membaca tentang penulis, yang biasa terletak di akhir buku. Atau kata pengantar yang terletak di halaman-halaman awal buku. Di kata pengantar biasanya penulis memaparkan perkara-perkara penting tentang isi dari buku tersebut, juga beberapa pesan dan kesan penulis selama menyelesaikan buku. Disitulah biasanya saya bisa mencuri sedikit banyak tentang bagaimana proses menulis, dan apa saja yang di rasakan si penulis selama menulis buku tersebut.

Seperti halnya didalam kata pengantar Ekaristi, Mario berbicara panjang lebar tentang hidupnya dan puisi. Mario sendiri berkenalan dengan penyair-penyair kontemporer seperti: Joko Pinurbo; M Aan Mansyur; Esha Tegar Putra; Nirwan Dewanto; Iyut Fitra dan lain-lainnya ialah saat ia sedang duduk di kelas 2 setingkat SMA. Saat itu ia mulai akrab dengan koran Kompas dan mulai mengoleksi buku-buku sastra, agak serius. Begitu katanya.

Sebenarnya beginilah cara saya belajar menulis puisi, cerpen dan novel. Saya belajar dari penulis-penulis yang telah berhasil menerbitkan buku-bukunya dengan cara mengamati buku-buku itu. Dan berharap didalam buku-bukunya penulis-penulis itu memberikan bocoran cara ia menulis buku tersebut. Di Ekaristi, Mario ternyata baik hati. Ia mengatakan selama menulis puisi ia tidak lepas dari cerita-cerita tradisional, menggali kearifan lokal dan beberapa khazanah Al-Kitab yang ia yakini. Sehingga tidak salah jika selama membaca  Ekaristi saya seakan menjadi orang asing yang berdiro diantara kerumunan yang riuh dan saya tidak tahu harus kemana. Barangkali itu disebabkan saya dan Mario memiliki perbedaan keyakinan.

Di Ekaristi banyak sekali Glossary yang tidak saya mengerti, bahkan sesekali tidak terdaftar dalam KBBI ketika saya coba mencarinya kata-kata yang mario gunakan dalam sajak-sajaknya kebanyakan tidak terdaftar. Menurut saya Mario telah berhasil memperkenalkan kearifan lokalnya pada publik. Ekaristi sendiri merupakan salah satu sakramen untuk merayakan lahir dan meninggalnya kristus. Dan beberapa tentang keyakinan kakeknya tentang keyakinan Jingitiu, suatu keyakinan yang di pegang kakek Mario hingga tandas hidupnya.

Didalam Ekaristi, Mario benar-benar berhasil membawa cerita-cerita tradisional yang penuh glossary asing, membawa kearifan lokalnya, dan terakhir, menaruh apa yang ia yakini dalam Alkitab. Benar-benar luar biasa, namun ada satu yang tak berhasil Mario lakukan: membuat saya pindah keyakinan dan meninggalkan iman saya.

Senin, 16 Januari 2017

Lelaki Harimau, Eka Kurniawan

Saya masih ingat teman saya dari kota mengatakan, ia tak berani membantah ataupun melawan orang tuanya lantaran takut menjadi batu seperti hikayat Malin Kundang. Bukankah ini sangat aneh atau barangkali lucu. Seorang anak yang di besarkan di kota dengan pergaulan yang begitu liar dan barangkali sangat bar-bar, tak berani melawan orang tua.

Saya sempat tersenyum di dalam hati, dan sedikit merenung sejenak selama ia masih nerocos menceritakan kehidupannya yang keras di kota, tempat ia tinggal dulu. Mungkin inilah guna dari sastra, asumsi saya. Ia menanamkan nilai pada sisi paling dalam. Bahkan lingkungan pun tak mudah untuk menggoyahkannya. Sebelumnya saya sempat bertanya-tanya apa yang saya peroleh dari membaca novel, cerpen dan beberapa puisi. Apakah hanya kesia-siaan?

Memang sebagai seorang yang tertarik di dalam dunia tulis-menulis fiksi, sebagai pembaca saya lebih sering membaca untuk mengamati. Seperti apa cara membuat awal cerita yang baik; tanda baca yang benar; dan mengapa buku ini di kategorikan bagus dan banyak di rekomendasikan. Itulah yang saya perhatikan selama membaca, meskipun sesekali saya merasa tersiksa dengan proses melelahkan itu, namun saya tetap akan melakukannya terus dan terus meskipun beberapa saat saya tinggal untuk bersantai. Beberapa saat kemudian saya akan kembali membaca buku-buku itu dan melanjutkan proses melelahkan yang selalu mengganggu pikiran saya. Itulah minat saya dalam sastra.

Catatan di atas sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan novel yang selesai saya baca kali ini. Saya hanya sekedar menyampaikan apa yang mengganggu pikiran saya selama membaca Lelaki Harimau, Eka Kurniawan. Baiklah saya akan mulai menyinggung tentang Lelaki Harimau.

Saya membaca Eka Kurniawan pertama kali adalah dari kumpulan cerpennya, Corat-coret di Toilet. Di sana saya ternyata menemukan banyak tentang bagaimana seorang yang ahli di bidangnya menuliskan cerpen yang sederhana, mudah di mengerti, namun sangat kompleks dan berkali-kali menyinggung ironi sosial.

Mendengar bahwa Lelaki Harimau mendapat nominasi dalam The Man Booker International Prize, sebuah penghargaan internasional. Saya langsung tertarik untuk membacanya. Dan mencari-cari mana yang bagus dari buku ini, oh iya sebenarnya buku ini saya baca di akhir tahun 2016 dan selesai di awal 2017. Jadi boleh di bilang buku inilah yang menemani saya di awal tahun 2017 sekaligus menjadi buku pertama yang saya selesaikan di tahun ini.

Sejauh ini menurut saya, Buku kedua yang saya rasa setara dengan buku-buku Andrea Hirata adalah buku ini, Lelaki Harimau. Saya berkali-kali di buat tercengang sekaligus tehibur, dan sesekali cekikikan disana sini mengikuti tigkah polah narator yang seolah amat liar dan tanpa batasan namun tetap selalu terlihat sebagai pencerita yang matang dan profesional. Eka Kurniawan, benar-benar telah mengambil tempat di hati saya tanpa saya sadari sekaligus tanpa keterpaksaan.

Menurut saya ini adalah novel kedua yang membuat saya mengenal lebih jauh tentang Indonesia, sekaligus menambah rasa bangga saya terhadap Indonesia. Di novel ini saya seolah melihat Indonesia dari sisi gelap yang mungkin jarang kita suguhkan jika kita berkenalan dengan orang lain. Sebagaimana perkenalan pada umumnya, tentunya kita akan mengenalkan diri dari sisi-sisi baiknya saja dan menutupi sisi buruknya, seakan-akan sisi buruk tak ada baik-baiknya untuk kita kenalkan pada orang lain. Namun Eka Kurniawan di Lelaki Harimau ini mengambil jalan yang sebaliknya, ia mengenalkan dari sisi sebaliknya, Indonesia yang carut marut dengan segala borok yang menempel disana sini, namun tetap menarik untuk di simak dan di ikuti hingga akhir. Seolah-olah Eka Kurniawan adalah peracik jamu yang pandai memilah rasa nikmat di antara rasa-rasa pahit yang tersedia.

Dalam salah satu jurnal Bernard Batubara, mengatakan yang harus di tulis penulis Indonesia adalah menulis Indonesia, sejatinya itulah yang di cari oleh pembaca luar. Mereka ingin mengerti corak Indonesia. Dan saya rasa Eka Kurniawan telah memberikan apa yang mereka cari tentang Indonesia di Lelaki Harimau nya.

Pertama kali membaca Lelaki Harimau, saya di buat bertanya-tanya atas segala kebingungan yang saya dapat di awal-awal halaman. Namun lembar demi lembar saya buka Eka Kurniawan mampu membuat saya memahami apa yang hendak ia sampaikan. Seakan-akan ia mengerti bahwa saya tak terlalu pandai untuk perkara yang rumit-rumit seperti hati anak perempuan misalnya.

Pertanyaan saya mengenai apa alasan Margio telah membunuh Anwar Sadat di kalimat pertama cerita terjawab jelas di Kalimat akhir cerita. Dan tanpa menyikasan secuil pertanyaan yang tidak terjawab. Seolah-olah Eka Kurniawan paham betul tentang hukum sebab-akibat, tentang logika cerita. Selama membaca Lelaki Harimau, Eka Kurniawan seolah berlari kencang ke depan kebelakang berkali-kali untuk menjawab satu persatu dari pertanyaan yang pembaca dapatkan.

Yang membuat saya tidak bisa lupa dengan Lelaki Harimau adalah sebuah mitologi Indonesia bahwa konon kakek dari kakek kita mengawini harimau, dan memelihara harimau-harimau itu didalam tubuhnya. Harimau itu akan keluar jika kaedaan genting atau sang tuannya sedang ingin menghajar sesuatu. Konon harimau-harimau itu digunakan orang-orang untuk menghadapi penjajah. Jika tuannya telah mati harimau itu akan ikut anak cucunya. Begitulah Margio memiliki harimaunya.

Namun masalah yang amat kompleks yang meliputi mitologi itu juga amat saling mendukung satu sama lain untuk membentuk cerita yang luar biasa. Dan pada akhirnya sedikit banyak saya mulai percaya dan mengambil pelajaran dari karya-karya sastra, seperti halnya teman saya yang mengambil pelajaran dari hikayat Malin Kundang.

Senin, 09 Januari 2017

Apa yang Saya Dapat dari Membaca?

Apa yang saya dapatkan dari membaca? Saya tidak mendapatkan baju baru, makanan enak, Smartphone baru, apalagi mobil baru. Jika mendapatkan di artikan dengan mengantongi material saya akan jawab saya tak pernah mendapatkan apapun, meski hanya selembar kain.

Malahan saya akan mengatakan saya kehilangan banyak. Kehilangan waktu menonton televisi, kehilangan waktu untuk memejamkan mata alias tidur lebih lama, kehilangan waktu bermain atau senda gurau bersama teman-teman. Bahkan boleh di bilang sesekali saya juga kehilangan waktu untuk memikarkan orang yang paling di cinta, saudara, orang tua dan perempuan.

Membaca novel, cerpen dan puisi adalah kesia-siaan, kata banyak orang seperti itu, menurut saya kesia-siaan yang hakiki adalah ketika kita tak pernah membaca apapun. Semakin banyak saya membaca semakin banyak pula saya di datangi keresahan-keresahan. Barangkali Itulah yang bisa saya dapatkan dari membaca buku.

Saya setuju ketika M. Aan Mansyur menulis di artikelnya yang intinya disitu ia menjelaskan tentang 12 hal yang ia pelajari ketika menjadi pustakawan. Didalam artikel itu Aan menyebutkan ketika ia banyak membaca buku, cara pandangnya terhadap lingkungan, menjadi berubah dan resah karena tidak sesuai dengan apa yang ia dapat dari membaca buku.

Memang kenyataannya selalu seperti itu. Namun didalam beberapa novel atau cerpen realisme kita akan mendapati kenyataan dari lingkungan. Haruki Murakami, dalam Norwegian Wood menggambarkan lingkungan Jepang yang mungkin lebih liar, club-club malam di Shibuya, tumbuhan-tumbuhan yang suka tumbuh di pegunungan Jepang, bunga narsis, stasiun Ueno dan beberapa psikologi tentang tokoh yang menderita karena cinta.

Sementara di beberapa cerpen Ahmad Tohari, saya melihat budaya Indonesia yang sebelumnya belum pernah saya sadari jika itu hanya dimiliki Indonesia. Semisal warung pedagang kaki lima, atau angkringan, cara bertutur yang sopan dan amat santun yang umumnya kita tahu kebiasaan-kebiasaan semacam itu barangkali hanya bisa kita temukan di Indonesia.

Karena saya memang juga belajar menulis novel. Maka seperti itulah caranya, saya membacanya, mengamati sejeli mungkin yang saya bisa. Dan terus membaca banyak tentang catatan-catatan penulis yang bukunya mendapat penghargaan. Dan akhirnya saya mengerti, ternyata saya belum apa-apa dibanding mereka. Perjalanan untuk menjadi seperti Haruki Murakami, Eka Kurniawan, Andrea Hirata, Bernard Batubara, M Aan Mansyur, ternyata tidak pendek seperti umur telur ayam.

Maka jika ditanya apa yang kamu dapat dari membaca? Entahlah, saya juga tidak mendapat telur ayam.

Minggu, 01 Januari 2017

Imung, Arswendo Atmowiloto

Melihat atau menyimak kasus-kasus kriminal barangkali adalah sebuah kemalasan bagi saya. Entah kenapa jika membaca koran atau menonton televisi saya lebih suka menyimak pemandangan alam yang eksotis ketimbang menyimak berita kriminal yang terus menerus melanda bangsa kita. Seakan-akan itu serupa penyakit kronis yang sukar untuk disembuhkan apalagi dihilangkan.

Ketika awal membaca judul yang tertera di sampulnya, tiba-tiba saya teringat dengan detektif cilik super jenius yang senegara dengan Haruki Murakami, yakni Detektif Conan. Beberapa kasus rumit dan teramat pelik mampu ia pecahkan di akhir cerita. Itulah yang membuat saya penasaran untuk membaca Imung, Detektif Cilik yang berasal dari Indonesia. Paling tidak saya ingin tahu bagaimana menulis novel teka-teki semacam detektif, kedua saya memang telah lama penasaran dengan nama Arswendo Atmowiloto yang saya ketahui juga menulis buku berjudul Blankanis, yang menurut beberapa orang recommended untuk dibaca.

Sebelum saya membaca isi ceritanya, saya terlebih dulu tertarik membaca riwayat penulisnya yang tertera di bagian akhir buku. Disitu disebutkan Arswendo Atmowiloto merupakan penulis yang memang punya background membaca sejak kecil. Ia juga beberapa kali menjadi redaktur di beberapa majalah termasuk pimpinan redaksi majalah Hai. Tidak hanya itu ia juga menulis beberapa naskah yang telah di filmkan di beberapa stasiun televisi nasional diantaranya Keluarga Cemara, Kiki dan Komplotannya dan beberapa yang lain.

Sebenarnya buku ini masuk dalam kelompok buku yang selesai aku baca di tahun 2016. Namun karena ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan terlebih dahulu, akhirnya baru bisa menulis catatan ini di awal tahun 2017.

Menurut saya Imung lebih serupa dengan cerita pendek detektif, sebab di setiap bab ada satu kasus yang terpisah dari kasus-kasus lainnya yang selalu diselesaikan oleh Imung. Jujur untuk bacaan buku fiksi detektif saya masih sangat miskin. Arswendo mengaku buku ini terinspirasi dari bacaannya tentang Detektif yakni Detektif Sherlock Holmes, Detektif Handoko--karangan Suparto Brata. Oleh karena itulah ia menulis Imung.

Didalam Imung seri 01 ini terdapat 15 kasus yang imung selesaikan. Imung sendiri adalah anak kecil yang tinggal bersama ayahnya di sebuah rumah yang mana rumah depannya di sewa sebagai kantor polisi. Karena ayahnya adalah pensiunan polisi, maka tidak sulit ia keluar masuk kantor polisi dan ikut menyelesaikan kasus-kasus kriminal.

Beberapa kasus yang membuat saya tertarik yakni Pembajakan Pesawat Terbang dan Perkara 50 Ton Ganja. Didalam dua kasus itu saya rasa Imung sedang benar-benar bekerja sebagai seorang detektif. Didalam Pembajakan Pesawat Terbang beberapa polisi tampak lumpuh oleh aksi penjahat yang akan membuat seluruh penumpang tidak selamat jika permintaan si penjahat tidak di turuti. Salah satu permintaannya yakni ingin minum satu kaleng soda, di situ Imung bersedia menjadi relawan pengantar minuman soda itu. Tentu saja semua menjadi tegang ketika anak kecil semacam Imung dengan kaki kiri yang korengan, mau mengantarkan minuman ke seorang penjahat. Namun dengan kecerdikannya penjahat itu berhasil dilumpuhkan Imung dengan mudah. Maaf saya tidak bisa menyebutkan bagaimana Imung melakukannya. Itulah kehebatan Imung detektif kecil milik Indonesia. Sesekali saya membayangkan Detektif Imung berkolaborasi dengan Detektif Conan. Mungkin Imung bisa belajar banyak darinya dan terlihat lebih modern barangkali.

Selasa, 27 Desember 2016

Hap!, Andi Gunawan

Hap!

Kau patahkan hatiku berkali-kali
dan aku tak mengapa

hatiku ekor cicak.

2013

Andi Gunawan adalah seorang comica yang menulis puisi, atau barangkali bisa juga dikatakan seorang penulis puisi yang comica. Itulah Andi Gunawan, sebenarnya ia tidak hanya penulis puisi saja ia juga menulis beberapa buku lainnya seperti kumpulan cerpen.

Membaca Hap! Saya seolah terjun dalam keresahan-keresahan Andi yang di gambarkan dengan amat menawan. Saya merasa buku ini seperti cemilan namun penuh dengan gizi. Barangkali jika ini sebuah snack atau makanan ringan, ia adalah snack dengan bungkus yang sederhana namun rasa dan gizinya kelewat muluk-muluk.

Sebenarnya saya juga curiga, seluruh puisi yang di tulis Andi dalam Hap! ini sedikit banyak telah keracunan punchline Andi saat sedang open mic. Sebab ketika membaca puisi-puisinya saya sering ketawa-ketawa sendiri mirip orang miring. Rasanya kurang lebih sama ketika saya membaca puisi-puisi Joko Pinurbo, melompat-lompat, liar, menggemaskan, dan diakhir cerita selalu membuat saya tertawa sendiri.

Kata-kata yang Andi gunakan dalam merangkai puisi seolah adalah kata-kata yang jatuh dari langit dan selalu enak di baca, lembut, lunak dan menawan. Saya merasa metafora dan analogi dalam puisi-puisi Andi sangat kaya meskipun terkesan sederhana. Bahkan saya sempat berpikir  barangkali inilah kehebatan Andi ia mampu menyelipkan sesuatu yang kompleks di dalam perihal yang sederhana.

Sebenarnya saya tidak mengerti banyak tentang konteks-konteks puisi. Saya hanya orang awam yang tiba-tiba mencintai puisi dengan mencoba menulis puisi dan membaca banyak puisi dari buku-buku atau koran-koran. Dan selama itu saya menganggap anatara puisi, cerpen dan novel memiliki garis persamaan, yakni narator. Narator adalah orang yang menuturkan dari mana cerita itu disampaikan, sehingga kesan subjektivitasnya akan nampak sekali. Saya rasa ini juga yang membedakan bagaimana kita mengenali tulisan seseorang, atau biasa kita sebut karakter penulis. Seperti halnya suara dalam menyanyi. Menulis pun sama, Andrea Hirata dengan karakter melayunya, M. Aan Mansyur dengan karakter puitisnya, atau Joko Pinurbo dengan kesan kocaknya.

Di dalam puisi-puisinya Andi Gunawan seolah menulis dari sudut pandangnya sendiri sehingga saat membacanya seringkali kita tidak akan mengerti apa yang dia maksud. Mungkin inilah mengapa puisi sering disebut-sebut sebagai karya yang subjektif, sesuka hati. Sehingga seringkali kita tidak mengerti apa yang sebenarnya hendak di utarakan penulis dalam puisinya. Mungkin hal ini pula yang mendasari Sapardi Djoko Damono menulis buku Apresiasi Puisi Bilang Begini Maksudnya Begitu.

Salah satu yang membuat saya tertarik dan antusias dalam membaca buku puisi Hap! adalah karena ada nama M Aan Mansyur sebagai penyunting puisi-puisi Andi Gunawan. Buku ini cetak pada Mei 2014. Sementara saya baru mengenal nama M Aan Mansyur pada tahun 2016. Ini artinya untuk menjadi penulis sekelas mereka waktu yang kita butuhkan tidak sedikit dan sebentar.

Catatan ini saya buat kurang lebih hanya sebagai dokumentasi membaca saya. Seperti halnya buku-buku yang saya ulas dua bulan terakhir. Bagi teman-teman yang mencintai puisi atau belajar menulis puisi mungkin bisa membaca buku Andi Gunawan ini. Keseluruhan dari puisi-puisi Andi saya suka. Namun jika disuruh memilih satu judul. Saya akan pilih puisi dengan judul: Dua Stoples Kenangan.

Sabtu, 17 Desember 2016

Belajar dari Tokoh Besar

Setelah mendengar sambutan bapak Dr. K.H. M. Saad Ibrahim (ketua PWM Jatim) dalam acara pembukaan musywil HW ke 4 yang tepatnya berlangsung di aula UNMUH Ponorogo, saya merasa diri saya bukanlah apa-apa. Bahkan di satu sudut saya benar-benar merasa malu.

Ketika itu saya sedang duduk di tengah-tengah puluhan peserta musywil yang juga sama-sama menyimak Pak Saad memberi sambutan. Atau barangkali lebih tepat beliau sedang memberikan kuliah umum pada peserta musywil. Di podium itu beliau berbicara banyak tentang segala permasalahan yang sedang di hadapi Muhammadiyah dan bebeberapa hal yang saya pikir itu merupakan perkara fundamental untuk sebuah bangsa yang berkemajuan.

Saat itulah saya merasa saya harus benar-benar banyak belajar, banyak menyimak, bersikap kritis terhadap suatu hal, dan tentunya tidak pernah punya rasa malas untuk terus membaca buku-buku. Dan tentu saja tetap menulis, sebab saya merasa menulis adalah salah satu cara kita untuk beretorika. Bagaimana menyusun kata-kata agar setiap apa yang kita sampaikan dapat dimengerti oleh orang yang menyimaknya.

Itulah yang saya kagumi dari Pak Saad ketika beliau menyampaikan sambutannya pada pagi tadi (17/12). Beliau menyampaikan dengan begitu lancar, tenang dan tidak tergesa-gesa. Sehingga orang bodoh seperti saya sedikit banyak bisa menangkap apa yang di sampaikan beliau.

Saya merasa keahlian seperti itu tidak serta merta didapat. Tentunya mereka melalui proses yang sangat panjang belajar, belajar dan terus mencoba. Seperti yang di ungkapkan Malcom Gladwel dalam bukunya The Outlier yang juga pernah di ungkapkan Eka Kurniawan dalam jurnalnya, bahwa seseorang akan mendapat keahlian ketika dia mau menyisihkan waktunya selama tiga jam dalam sehari, selama sepuluh tahun. Barulah keahlian itu bisa didapatkan.

Jika teman-teman bertanya apa isi dari sambutan Pak Saad barusan. Mohon maaf saya tidak bisa menyampaikannya disini atau dimanapun sebab keterbatasan yang saya miliki ini.

Selasa, 13 Desember 2016

Puisi-Puisi Fatah Anshori: Produk yang Kamu Ciptakan dan Wariskan

Berikut adalah puisi-puisi saya yang dimuat di Nusantaranews.co. bagi teman-teman yang ingin membacanya silahkan tinggal klik tulisan berikut:

Produk yang Kamu Ciptakan dan Wariskan

Minggu, 11 Desember 2016

Norwegian Wood, Haruki Murakami

Ini adalah pertama kalinya saya membaca Murakami. Novel Norwegian Wood, Haruki Murakami ini selesai saya baca dalam kurun waktu sekitar empat minggu atau satu bulan. Sastrawan asal Jepang ini benar-benar membuat saya berpikir lebih dalam tentang beberapa hal dalam penulisan novel.

Pertama penokohan dalam sebuah cerita. Saya merasa Norwegian Wood ini di tulis dengan memikirkan hal-hal itu. Psikologis seorang tokoh yang amat kuat. Seperti ini misalnya, seorang anak kecil yang tiba-tiba ditinggal ibunya. Kemungkinan-kemungkinan apa yang mungkin terjadi pada anak kecil itu? Boleh jadi anak itu meronta, menangis, dan ketakutan karena tidak biasa dengan kesendirian. Dalam novel ini Murakami memberi gambaran yang jelas tentang itu, hal ini membuat saya berpikir lagi, meskipun fiksi tetap ada pelajaran yang diambil untuk kita terapkan dalam dunia nyata.

Saya pernah membaca Eka Kurniawan dalam jurnalnya, kurang lebih ia menyebutkan bahwa setiap cerita atau novel adalah bentuk psikologis dari seorang tokoh. Mengenai apa yang ia pikirkan, apa yang ia lihat, rasakan, dengar dan pendangannya terhadap sesuatu. Hal ini benar-benar merupakan perihal unik dan setiap orang jelas berbeda satu sama lain. Barangkali sepetti itu yang di maksud Eka dalam salah satu jurnalnya, sebab saya sudah agak-agak lupa dengan apa yang Eka sebutkan. Namun hal itu membuat saya memperhatikan apa itu psikologi penokohan.

Selanjutnya yang saya dapat dari membaca Norwegian Wood, adalah cara Murakami dalam mengenalkan penulis-penulis yang pernah ia baca. Hal ini barangkali adalah serupa dengan memberikan referensi bacaan untuk pembaca bahwa novel ini merupakan novel yang ia tulis setelah membaca novel-novel tersebut. Beberapa nama penulis yang Murakami sebutkan namanya dari novel ini: Takahashi Kazumi,  Oe Ken Zaburo, Misima Yukio, Truman Capote, Updike, Scott Fitzgerald, Raymond Chandler, dan nama-nama lainnya. Dan tentu saja ini hanya dugaan saya.

Norwegian Wood ini di ceritakan dari sudut pandang Toru Watanabe, dari awal hingga akhir cerita adalah Watanabe yang bercerita tentang segala hal. Norwegian Wood ini berkisah tentang Watanabe yang memiliki ikatan dengan Naoko, semacam ikatan perasaan. Kisah di mulai ketika Watanabe mengenal Kizuki, dari Kizuki itulah dia mengenal Naoko, perempuan yang kelak ia cintai yang sebetulnya adalah pacar dari Kizuki sendiri. Memasuki dunia perkuliahan Watanabe berubah menjadi lelaki sangat berbeda setelah mengenal Nagasawa-San. Setiap malam ia pegi dan tidur dengan perempuan yang ia temui di jalan atau di kedai minum. Beberapa hal yang Murakami bahas secara serius disini menurut saya adalah beberapa hal tentang psikologis orang-orang dengan kehidupan bebas tanpa mengenal batas. Untuk keseluruhan ceritanya tentu saja tidak akan saya ceritakan semua. Sila di baca sendiri bukunya jika benar-benar penasaran.

Kebanyakan yang di katakan novel ini adalah hal-hal yang berbau sangat dewasa. Semuanya di perjelas Murakami tanpa berusaha menutup-nutupinya dengan metafora ataupun analogi. Beberapa kalimat terkesan sederhana dan benar-benar sangat mudah untuk di mengerti. Cara bertutur Murakami sangat menyenangkan, tidak terkesan muluk-muluk. Dan seolah takarannya pun pas.

Selama membaca ini saya merasa Murakami benar-benar telah berhasil membuat setting tempat yang jelas seolah-olah seperti melihat sendiri bagaimana sudut-sudut Jepang. Barangkali ini membutuhkan riset yang tidak sebentar. Dan seperti yang saya dapat dari membaca Bernard Batubara, bahwa penulis yang baik adalah penulis yang menulis bangsanya. Dari Murakami saya sedikit banyak telah mengenal Jepang. Tentang stasiun Ueno, Shibuya, bunga Narsis, dan sudut-sudut Jepang lainnya.

Selasa, 29 November 2016

Dialog dalam Norwegian Wood, Haruki Murakami

Dalam buku Creative Writing A.S. Laksana, pada dasarnya dialog dalam sebuah cerita adalah percakapan penting yang memiliki kekuatan tertentu, atau kalimat-kalimat yang memiliki penafsiran ganda. A.S. Laksana juga mengatakan dalam bukunya bahwa sebaiknya dialog yang di tulis dalam sebuah cerita merupakan dialog yang telah mengalami pemurnian dan tak seperti dialog yang di lakukan orang-orang dalam kehidupan sehari-hari. Setelah mengetahui itu saya benar-benar menjadi gentar dan takut untuk menuliskan dialog dalam cerpen-cerpen atau novel yang saya kerjakan. Lalu sejauh ini saya lebih sering membuat narasi-narasi panjang ketimbang harus membuat adegan dengan adanya dialog didalamnya. Namun di Norwegian Wood Haruki Murakami, saya mendapat pemahaman baru tentang dialog. Pertama saya merasa dengan dialog seorang narator bisa membelokkan atau membawa cerita kemana saja yang ia mau. Semisal seperti ini, saat seorang tokoh sedang berjalan-jalan dengan tokoh lain membicarakan sesuatu yang sekiranya sulit atau tidak mau di teruskan. Salah satu dari tokoh diatas bisa mengalihkan arah pembicaraan dengan ajakan untuk membahas sesuatu yang ia usulkan. Kedua dengan adanya dialog kita bisa menjadi se subyektif mungkin untuk berpendapat tentang suatu perkara. Barangkali disinilah kita dengan leluasa bisa mendapatkan kebebasan untuk berpendapat tanpa terbentur kepentingan-kepentingan pihak tertentu, termasuk kode etik yang di buat penguasa. Mungkin ini adalah salah satu teknik menulis artikel dalam sebuah cerita. Sehingga meskipun dalam dunia fiksi kita tetap memliki tempat untuk beraspirasi atau berpendapat. Ketiga, sepertinya saya kurang sependapat dengan A.S. Laksana, menurut saya hal-hal sepele atau percakapan yang biasa kita temukan dalam kehidupan nyata bolehlah satu dua kali kita masukkan ke dalam certia yang kita buat. Karena paling tidak dengan cara semacam itu kita bisa menurunkan tensi cerita. Dan mengatur irama cerita, seperti kata Bernard Batubara, bahwa cerita yang baik adalah cerita yang seperti lagu memiliki tangga nada tidak selalu tinggi atau selalu rendah. Ada intro, reff, dan semacamnya itu. Sehingga pembaca selalu nyaman dan menikmati cerita yang kita buat. Mungkin ini adalah tantangan tersendiri buat saya dalam menulis cerita agar cerita yang saya tulis selalu menarik dan tidak membuat pembaca jenuh.

Rabu, 23 November 2016

Saya dan Skripsi

Saya dan skripsi ibarat langit dan bumi atau air dan api, barangkali seperti itu. Dulu saya pernah menonton film Avatar The Lefend Of Aang. Film animasi ini bercertia tentang seorang anak yang memiliki kemampuan mengendalikan empat elemen dasar: bumi, udara, angin dan api. Yang mana dalam prosesnya ia harus memulai mempelajari satu persatu cara mengendalikan ke empat elemen dasar itu. Ketika harus mempelajari elemen api elemen itu sama sekali bertentangan dengan elemen air yang telah ia kuasai. Kemudian saya merasa perkara ini serupa dengan apa yang saya alami sekarang. Menulis skripsi sama sekali berbeda dengan menulis fiksi. Dalam menulis fiksi semisal novel, cerpen atau puisi saya hanya menulis saja, mengalir seperti air, kalaupun harus mengutip atau butuh sumber referensi, caranya tidak serumit menulis skripsi. Hanya begini seperti yang saya bilang sebelumnya, semuanya mengalir sendiri, sumber-sumber yang pernah saya baca berdatangan sendiri ketika saya sedang membutuhkannya. Kalaupun saya membutuhkan kalimat pembuka yang menarik agar pembaca selalu penasaran dengan cerpen saya biasanya saya mengutip dari tulisan yang saya kira menarik dan memiliki kekuatan untuk di jadikan pembuka cerita. Dan satu lagi saya mengerti keseluruhan dari apa yang saya tulis. Sementara di skripsi saya seperti orang yang tidak tahu harus kemana dan mau kemana. Pikiran saya seperti terpecah-pecah dan tidak tahu apa yang sedang saya tulis itu. Saya dan skripsi barangkali adalah dua hal yang sama sekali bertentangan seperti air dan api, malam dan siang, positf dan negatif. Begitulah kiranya saya dan skripsi sekarang ini, tapi tetap saja keduanya harus saya kuasai. Sebenarnya ini adalah jurnal saya yang pertama sebagai catatan tentang diri saya dan perihal menulis cerita.

Sabtu, 12 November 2016

Afrizal Malna: Berlin Proposal

Berkunjung ke negara orang lain barangkali adalah sebuah keterasingan yang luar biasa. Bisa dibayangkan bagaimana runyamnya. Mulai dari adat yang sama sekali berbeda, lingkungan tempat yang kita tinggali, rumah yang kita huni, tetangga sekitar, dan yang paling krusial barangkali adalah bahasa. Semuanya seketika menjadi berbeda.

Itulah barangkali yang di ibaratkan Malna seolah dirinya berubah menjadi serangga Kafka dengan keterasingan bahasa yang di milikinya. Ia merasa bahasa ibunya kehilangan kekuatan dan fungsi untuk mengungkapkan sebuah makna. Sehingga kondisi tersebut memaksanya untuk menggenggam bahasa baru seperti yang dia katakan dalam salah satu larik puisinya.

Berlin Proposal adalah buku kumpulan puisinya yang ia tulis saat sedang mengikuti artis residen DAAD di Berlin selama 1 bulan di tahun 2012. Kemudian di lanjutkan 1 tahun dari 2014-2015.

Pertama kali saya mengenal nama Afrizal Malna adalah dari tulisan dan puisi-puisinya yang di muat di litera.co.id. kemudian di IG seorang penyair muda Al Fian Dippahatang saya melihat ia berfoto dengan Afrizal Malna. Barulah setelah itu saya penasaran dengan dia. Dan akhirnya saya menemukan buku kumpulan puisinya Berlin Proposal.

Jujur ketika membaca puisi-puisi Malna di Berlin Proposal saya menemukan ketidakpahaman yang luar biasa. Namun di balik ketidakpahaman itu saya menemukan diri saya tergoda untuk terus membaca dan membacanya hingga tandas di lembar terakhir.

Subyektifitas Malna di buku ini seolah sangat kuat sekali. Seperti yang saya ketahui pada dasarnya puisi itu terpengaruh dari  tendensi penulisnya sendiri. Barangkali itu yang tergambar dari puisi-puisi Malna. Beberapa puisi memang seperti menggambarkan keadaan di Berlin, dimana penulisnya saat itu tengah berada. Disamping itu Malna juga sering memasukan istilah-istilah asing yang barangkali ia temui saat sedang berada di Berlin. Semisal Isthar Gate, gutenberg, ahrweiler, dan sekiranya masih banyak lagi. Ketika saya penasaran dan mencoba search di google 'isthar gate' beberapa saat kemudian muncullah sebuah bangunan besar serupa gerbang yang disusun dengan bata bata berwarna biru. Di salah satu dindingya tergambar hewan berkaki empat. Entah saya kurang tahu jelasnya binatang apa itu. Sapi atau rusa saya tidak begitu menyimaknya dengan seksama barangkali. Tapi intinya apa yang di katakan Malna dalam puisi-puisinya itu memang benar-benar ada.

Liar, berani, menantang keindahan diksi, dan melompat-lompat itulah yang saya dapat ketika membaca puisi-puisi Malna di berlin proposal ini. Ketika penyair-penyair lain sibuk memikirkan keindahan diksi. Malna malah sebaliknya ia melawan semua itu dengan gayanya yang berani dan melompat-lompat itulah yang menurut saya membuat puisi Malna memaksa saya untuk menghabiskan secepatnya.

Di puisi kaldera Afrizal Malna memaparkan puluhan gunung yang berada di Indonesia dan sejarah singkat mengenai gunung gunung itu. Berbeda dengan puisi paket kiriman, disini Malna seperti merangkum sejarah sejak 1898 hingga 1937. Kejadian-kejadian besar dalam dan luar negeri seolah di simpan dan terekam dalam sebuah miniatur. Yang siap untuk dibuka kapan saja. Hampir saja lupa ketika membaca puisi ini kita akan disuguhi gambar yang tidak lazim namun eksotis sepett bunga-bunga sehabis malam dan hujan di sore hari.

Menyenangkan seperti mencium harum jasmine sehabis hujan turun, itulah yang barangkali ingin saya ucapkan pada Malna untuk puisi-puisinya itu.