Minggu, 22 Januari 2017
Kumpulan Puisi: Main Ayunan dan Bunga Krisan
Main Ayunan dan Bunga Krisan: Puisi Fatah Anshori
Selasa, 13 Desember 2016
Puisi-Puisi Fatah Anshori: Produk yang Kamu Ciptakan dan Wariskan
Produk yang Kamu Ciptakan dan Wariskan
Rabu, 17 Agustus 2016
Bangun Kesiangan
Itukah mukamu setelah bangun kesiangan
Telat sholat shubuh, belum keramas
Bau sandal terbakar, jelek sekali Bocah.
Penuh luka
Bercampur derita
Dimana-mana
Lihat rambutmu, bagai jerami
Di hajar beliung. Jadi manamungkin
Ada anak perempuan suka padamu.
Tapi jika ada pasti dia perempuan baik, jawabku pada diriku sendiri usai sholat Subha, pukul 06.30. (Hari kemerdekaan)
Senin, 15 Agustus 2016
Endonesa
Seharusnya kau harus lebih mafhum
Dari laut yang suka terlihat diam
Serupa gunung-gunung itu.
Bukankah kau lebih dari mereka,
Dimana:
Bibirmu
Tanganmu
Kakimu
Juga kepalamu
Untuk ibumu yang hampir rapuh ini
Aku, Endonesa.(15/8)
Rabu, 10 Agustus 2016
Untain Kesalku
Jangan kau pikir aku cuma benda mati yang tak punyai perasaan. Seenaknya saja kau pangkas sesuka hatimu.
Jangan kau kira aku serupa jelita murahan yang suka keluar malam.
Sesuai panggilan hasratmu, yang terpendam.
Asal kau tau setiap malam, aku melantun doa-doa pada Tuhan. Di sepertiga malam.
Dan kau tahu aku bisa melihat doa-doa ku itu merambat melalui angin. Serupa cicak yang merambat di dinding. Doaku merambat di segala dinding.
Di pohon kelapa yang hampir mati, di angin kemarau yang berembus dingin, di bintang-gemintang yang dapat kau lihat dari jendela kamarmu.
Ia merambat, doaku adalah untaian kesalku padamu. Tukang cukur rambut! Tunggu saja balasan dari-Nya.(11/8)
#prosa #fatahanshori
Senin, 08 Agustus 2016
Lupa?
Di suatu pagi di pinggiran sungai kaki-kaki kecil kita bermain didalam aliran air, kau berbicara banyak. Sehingga aku harus jadi pendengar yang baik.
Katamu di buku yang kemarin kau baca, di sebuah negeri ada anak laki-laki yang lupa diberi nama orang tuanya. Dan kau terheran-heran.
Aku tersenyum, bukankah kau juga lupa memberi nama pertalian kita? Bentakku didalam benak. (9/8)
Sabtu, 06 Agustus 2016
Dulu dan Kini
Dulu kau malu-malu seperti dua anak yang takut tertangkap kamera itu. Berpandang mata saja dulu kau tak sanggup. Katamu, itu membuat nyeri di dada. Dan sesak di kepala.
Namun setelah ku tinggal sebentar. Hanya sekitar satu semester saja tabiatmu telah berubah.
Jangankan hanya berpandang mata. Bertalian ragapun, kau bilang sudah biasa. Aku mendesis, setan mana yang telah menghasudmu?
Sederhana saja harapanku, moga dua anak itu tak serupa denganmu.
Ya sudahlah, paling tidak aku masih punya pengharapan. Meski sederhana.(6/8)
Senyummu yang Tipis
Tiada habis-habisnya
Indah yang kau taburkan
Di toko minuman pinggir jalan
Di layar ponsel yang kau pamerkan
Di raut wajahmu
Semua bersumber
Ibarat taman di surga Adn
Mengalirlah semuanya
Pandangan yang meneduhkan
Senyummu yang tipis
Nan manis
Berkumpul diwajahmu
Yang itu. (7/8)
Senin, 01 Agustus 2016
Doa-doa Ibu
Selanjutnya kau akan memandang banyak.
Gurun gersang, gunung terjal, tembok kokoh, binatang buas.
Di tambah musim yang seperti perempuan,
Sulit dimengerti.
Namun jangan khawatir Nak!
Selalu ada cara untuk mengalahkan mereka.
Ibu akan meniupkan mantra
Dan doa-doa
Dari belakang punggungmu.
Tapi janji, Nak
Sekalipun jangan menoleh kebelakang. (1/8)
Kamis, 21 Juli 2016
Jam Dinding
Didalam sunyi terkandung puisi
Didalam rahim tertanam nyawa
Diantara kita akan terlahir cinta.
Jam dinding dibelakangku
Yang membisikkannya
Padaku. (22/6)
Sabtu, 16 Juli 2016
Mitch
Mitch ... dulu tulisan-tulisanmu
Adalah laba-laba hitam
Yang mengerikan. Kudiamkan
Dirimu sendiri di rak buku
Paling ujung.
Barangkali dengan cara itu,
Tak ada tangan-tangan yang
Tersengat tulisan-tulisanmu
Yang berbau Yesus, Tuhan Bapa,
Dan semacamnya.
Mitch ... dulu aku ingin menjualmu
Dengan harga semurah Rupiah
Atau menimbunmu bersama tumpukan sampah
Dibelakang rumah.
Seperti yang kita tahu
Jam dinding terus berdetak
... dan benci menjelma kasih
Tanganku meraih kesabaranmu
Menunggu, di ujung rak buku.
Have A Little Faith mu,
Ku baca setiap senggang waktuku.
Ternyata kita punya kemiripan
Sama-sama mencintai sastra
Dan kecantikan kata-kata.(16/7)
__sebagai bentuk apresiasi untuk Mitch Albom.
Jumat, 15 Juli 2016
Menutup Mata
Aku mencarimu di sepanjang jalan Solo
Orang-orang menanggapku gila
Aku tidak peduli
Aku membaca koran, katanya
Engaku di Mangkunegaran, duduk senditian
Aku sudah sampai, penjual koran itu
Berkata, jangan percaya berita di koran
Lantas? Tanyaku dalam hati
Percaya hanya pada-Nya, Nak!
Penjual koran menjawab lewat mimpi.
Kemudian iri merambat di dadaku
Melihat bendera dan tiang bersama
Melihat aspal dan sepatu bercumbu
Melihat langit dan awan mesra
Aku menutup mata. Saja. (15/7)
Sabtu, 09 Juli 2016
Rumus Jodoh dan Surga di Pinggir Jalan
Aku percaya pada keajaiban
Ku harap kau pun sama.
Rumus yang kita pegang adalah:
Doa + Ikhtiar = Takdir (Berjodoh)
Sudahlah kekasih cukup itu,
Yakinlah nanti kita akan bertemu disurga.
Sebab dimanapun kita bersama, itulah surga.
Juga warung minum pinggir jalan
Tempo hari.
Desaku, 9 Juli 2016
__ku tulis semata-mata akibat buku kumpulan Puisi-puisi Cinta (W.S. Rendra)
Kamis, 07 Juli 2016
Pengakuan Arwah & Doa
Sebelum aku berbicara jauh soal arwah dan doa?
Ada baiknya aku meminta maaf dulu,
Maaf ya kawan!
Sekarang akan kumulai.
Orang-orang suka memainkanku
Seperti anak perempuan memainkan bonekanya.
Aku dibawa ke masjid,
Dibawa ketika genting,
Juga dibawa ke makam,
Katanya aku adalah bahasa yang pantas
Untuk bercakap-cakap dengan Tuhan: aku sebagai doa.
Orang-orang tak suka memainkanku,
Malah aku yang memainkan mereka.
Katanya aku adalah hadiah dari Tuhan.
Gara-gara ulahku mereka mengenal mati.
Aku yang menggunakanmu untuk bercakap-cakap
Dengan Tuhan: aku sebagai arwah.
Entah sejak kapan kita telah menjadi teman.(6/7)
Senin, 04 Juli 2016
Ketapang-Ketapang Teduh
Ternyata namamu tak serumit
Sajak yang ditulis Chairil
Juga tak serumit kisah cinta Sabari
Dari balik jendela lantai tiga,
Aku memandangimu diam-diam.
Kau anggun berdiri setiap
Pagi dan petang tak peduli terik atau hujan datang.
Tanda tanya besar berdengung dikepalaku
Siapakah namamu?
Aku berkelana naik perahu kepulau seberang.
Kata orang disana ada petujunjuk nama mu.
Namun disana hanya ada nisan-nisan kusam yang menancap
Di antara bau-bau anyir.
Berita-berita tentang namamu tak kudapati,
Kemudian aku pulang diusir sunyi.
Aku melihat seekor angsa di sampul buku puisi karangan orang Pontianak.
Dan sebuah lukisan pohon mirip dirimu, tempo hari
Kedua, lengan dan rambutmu yang lebar,
Hijau dan warna senja tertangkap kamera.
Juga dibuku puisi.
Ternyata namamu cukup sederhana:
Ketapang.
Pohon Ketapang yang teduh.(4/7)
__kutulis seperti janjiku dulu.
Aku Tak Bisa Menjadi Avatar
Sudah kubaca referensi tentang perempuan sepertimu.
Namun aku masih tak mengerti,
Lelaki seperti apakah yang kau ingini:
Lelaki angin kah?
Yang bisa mengajakmu terbang
Menyusuri bentangan awan-awan itu.
Lelaki bumi kah?
Yang bisa melunakkan tanah
Agar jika kau terjatuh kau tak pernah merasa sakit.
Lelaki air kah?
Yang berkawan laut dan samudra
Biar kau tahu cerita tentang dunia di dasar sana.
Atau, lelaki api kah?
Yang bisa mengeluarkan api dari ujung jarinya
Agar jika memasak kau tak lagi kesusahan
Atau mungkin kau ingin semuanya.
Maka maaf kekasih, Aku tak bisa menjadi Avatar.(3/7)
Sabtu, 02 Juli 2016
Waktu
Kau adalah lembar-lembar yang sempat kupisahkan, untuk kujual ke para pedagang dengan harga murah.
Berapa harganya bang? Ibu penjual kopi bertanya.
Ganti dengan segelas kopi saja bu. Jawabku santai.
Puluhan tahun kemudian, aku menjadi orang paling menyesal didunia. Manuskrip itu dilelang dengan harga setinggi tiang bendera.
Waktu: jendela rahasia yang mengubah sesuatu.(2/7)
Jumat, 01 Juli 2016
Bulan dan Kekasihmu
Bulan baik, ia mendinginkan cahaya Matahari,
Lalu menaburkan ke Bumi
Untuk kalian yang sendiri
Di malam yang sunyi.
Ia mengerti tungku api didadamu
Sedang bekerja,
Maka Bulan jadi baik.
Ingin menemanimu dengan kelembutan sinarnya.
Ia bisa jadi apa saja, jadi sabit.
Jika kau ingin membunuh pacar kekasihmu.
Ia juga paham jika kau ingin diperhatikan,
Bulan akan penuh, mirip mata kekasihmu.
Tapi kadang kau begitu tega,
Membawa kekasih kalian ke hutan.
Dan menginginkan Bulan pergi malam itu,
Maka Bulan pun mengerti, ia akan bermain kerumah Awan.
Meninggalkan kalian di hutan berduaan.
Caling, 2 Juni 2016
Kamis, 30 Juni 2016
Sandal Jepit
1.
Sebenarnya aku pun punya impian, Layaknya kalian.
2.
Jika nanti ada perempuan, yang mau menemaniku.
3.
Aku ingin selamanya kita seperti: Sepasang sandal.
4.
Kau tahu sandal cukup sederhana, maka aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Sesederhana sepasang sandal.
5.
Dalam kemasan selalu bersama. Kemana-mana juga bersama, berjalan di becek lumpur bersama.
Berjalan di aspal pun bersama.
6.
Bukankah ia selalu menerima dan senantiasa bersyukur. Tak pernah menolak anugerah dari Tuhan. Berupa kaki-kaki itu, Entah kaki setan atau kaki manusia yang mengenakannya. Mereka berdua tetap bersama, tak pernah berdebat (hanya ingin dikenakan kaki yang sopan-sopan saja)
7.
Selalu bekerja bersama, dewasa dan saling menjaga. Ketika orang asing di masjid menculik salah satunya, salah satunya lagi selalu minta untuk diculik juga. Bukankah itu cukup untuk menunjukkan kesetiaan mereka.
8
Mereka pun menua bersama. Penuh bintik hitam dibadan mereka bersama. Bahkan mati pun mereka tetap bersama. Ketika salah satu lehernya putus, salah satunya lagi akan merenung disampingnya. Seolah menangis dalam diam, merenungi kekasihnya yang telah wassalam.
9.
Tak mungkin yang masih hidup itu selingkuh. Sebab sepasang kaki itu telah kawin lagi. Mereka macam ayam jago yang suka berganti bini. Lihatlah sepasang kaki itu sudah membeli sepasang sandal yang baru.
10.
Oh asyiknya kata sepasang kaki itu mengenakan sandal baru. Ia gembira ria seperti pengantin baru.
Plosowahyu, 1 Juni 2016
Untuk Flamboyan(ku)
Entah sejak kapan kau berdiri disana
Pernah kubayangkan membangun rumah,
Dilengan-lenganmu yang perkasa itu.
Pasti menyenangkan bisa tidur sambil,
Menghirup harummu.
Beberapa bulan yang lalu kecantikanmu nampak.
Aku tak menyangka kau secantik itu,
Bunga-bunga berwarna jingga hinggap di sela-sela rambutmu yang hijau.
Aku bertanya-tanya siapakah namamu?
Pada bambu-bambu disampingmu,
Ia hanya mendesis
Pada pohon mangga,
Ia menatapku sinis.
Pada rumput-rumput dibawahmu,
Ia sibuk menatap matahari.
Kau tumbuh cepat seperti perempuan,
Yang kutaksir,
Menawan dan membuatku kasmaran.
Aku pikir sudah delapan kali musim,
Kau lewati dengan kesabaran,
Yang dimiliki ibu.
Sore ini kau masih membisu
Dari balik jendela ini aku memperhatikanmu.
Kau sudah siap untuk menanam anakmu,
Benih-benih baru sudah menghitam disekujurmu.
Kau pasti tahu itu.
Tepat dua hari yang lalu,
Aku tidak sengaja melihat saudaramu (mungkin)
Tertangkap wajahnya di buku puisi
Yang kudapat di perpustakaan umum kota.
Saat itu aku tahu namamu,
Flamboyan, Pohon Flamboyan
Didepan Rumahku. (24 6. 2016)
__(sore ini kutepati janjiku untuk memenjarakanmu dalam sebuah sajak. Yang kutulis saat perutku tengah di hajar rasa lapar)