Tampilkan postingan dengan label My Short Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Short Story. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Oktober 2015

Kendaraan Super Tradisional

Kawan, Pagi itu langit cerah-cerah saja. Tak sedikitpun terlihat tanda-tanda akan turunnya hujan. Bagaimana mungkin hujan akan turun, jika matahari saja tidak pernah sembunyi dibalik mendung. Awan-gemawan berarakan tipis di antara semburat sinar mentari pagi. Burung-burung mencicit didahan-dahan yang telah mengering tak berdaun.

Jalanan beraspal sejauh mata memandang didampingi oleh lahan-lahan yang tengah mengering. Sehingga pemandangan keseluruhan adalah warna cokelat tandus. Rumput, daun, serta bekas ladang jagung pun demikian, mereka terlihat kehausan.

Kawan ini adalah kemarau. Jadi tak usah khawatir jika banyak makhluk yang merintih merindukan air.

Pemandangan serta suasana kemarau di minggu pagi itu telah lunas membuatku terkesima. Aroma anginnya, semburat mentarinya, serta kelepak burung diantara awan berarakan.

Aku tak pernah manyangka sebelumnya, akan bertemu untuk kedua kalinya dengan kendaraan super tradisional yang tak pernah dapat ketemui di sorot stasiun televisi. Iya ini untuk kedua kalinya, dulu di waktu musim penghujan aku pernah melihatnya, hanya sebatas melihat. Tapi pagi itu takdir seolah berbaik hati. Aku mendapat kesempatan untuk menaiki kendaraan super tradisional yang ditarik oleh dua ekor sapi, meskipun hanya sebatas naik dan berfoto saja.

Kata ibunya temanku, kendaraan itu bernama Cikrak, dan masih ada di bumi Lamongan, sebelah utara agak menjorok kedalam. Jika berminat marilah kita naik bersama-sama kawan!

Selasa, 22 September 2015

Belajar Bermain

Belajar. Mengingat kata itu, yang terlintas di pikiran adalah potongan-potongan kejadian masa kecil. Dimana Ibu senantiasa sabar menghadapi anaknya ini yang sungguh keterlaluan nakalnya. Disuruh belajar malah asyik bermain. Tapi entah dengan berapa kalilipat kesabaran Ibu senantiasa sabar menemani waktu belajarku.

Dulu Aku menganggap belajar adalah suatu kegiatan yang amat menjemukan. Yang harus selalu kulakukan setiap hari sehabis sholat maghrib. Belajar apalagi kalau bukan belajar membaca, mengaji, dan menulis. Semua itu karena kehendak ibuku.

Meskipun pernah sekali dua Aku lebih memilih bermain dari pada belajar bersama ibu. Tetap saja tak terlintas raut muka kesal melintang di wajah ibuku. Sempat aku bertanya dalam benak. Mengapa ibu tidak marah lantaran aku memilih bermain dari pada belajar pada waktu itu.

Seiring berjalannya waktu, detik menjadi menit. Menit berganti jam. Jam ditelan hari. Hari bersatu dengan tahun-tahun yang berjalan sebagaimana mestinya. Sudah tidak mungkin lagi bagi Ibu untuk menemaniku belajar menyelesaikan soal-soal matematika yang semakin pelik urusannya. Atau mengajariku tentang hukum-hukum fisika yang syarat akan keputus asaan dalam mengerjakan. Lantaran rumus-rumusnya yang kian hari kian panjang saja.

Sudah tidak mungkin lagi ibuku mengajariku tentang semua itu. Toh Ibuku hanya seorang lulusan sekolah menengah.

***

Sehingga semua nya harus kujalani sendiri. Kuhadapi sekuat tenaga. Tanpa henti pernah minta bantuan lagi. Kini semuanya terserah kehendakku entah belajar atau tidak usai sholat maghrib, sekarang bukan lagi urusannya. Seolah Ia selalu menyetujui setiap apa yang kukerjakan.

Tapi ternyata dari situlah aku mengerti bahwa ibuku adalah orang yang amat mengerti tentang hakekat belajar. Ia tahu bahwa hal yang dinamakan belajar bukanlah sesuatu yang memiliki arti sesempit apa yang pernah kuduga sewaktu kecil.

Ia percaya padaku bahwa setiap saat dimanapun aku berada. Aku selalu belajar. Bukankah belajar bukanlah hal yang hanya ada sangkut pautnya dengan nilai, atau rangking di kelas. Jauh diluar itu belajar merupakan kegiatan yang senantiasa kita kerjakan. Tanpa kita sadari. Bahwa belajar adalah proses yang amat panjang, bertahap dari ketidak tahuan menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa. Bahkan berjalan pun melalui hal yang dinamakan belajar. Yaitu belajar berjalan.

Itulah sebabnya mengapa ibu tidak marah ketika Aku lebih memilih bermain dari pada belajar. Sebab bermain pun merupakan sebuah pembelajaran.

Minggu, 06 September 2015

Cinta Ke Duaku

Kawan, bagiku waktu terbaik dalam hidupku saat ini adalah waktu dimana aku bisa bebas bercengkrama dengan buku-buku sastra di perpustakaan kampusku yang jumlahnya tak lebih dari hitungan jari. Sempat aku kecewa akan kemiskinan jumlah buku sastra di perpustakaan kampus itu lantaran semuanya sudah lunas kubaca. Bahkan ada beberapa buku yang sempat ku baca ulang. Itu adalah bentuk kecintaanku terhadap buku itu.

Pada suatu ketika, saat titik kejenuhan sudah hampir mencapai batas kekecewaan. Ku tengok sebuah rak didekat meja register. Dan disitulah kebahagian yang berpendar-pendar telah kutemukan. Jika digambarkan kebahagianku bak kebahagian orang tua yang telah menemukan anaknya yang sempat hilang untuk jangka waktu yang cukup panjang. Di rak buku itu aku seolah menemukan cinta ke duaku tengah menungguku dengan penuh kerinduan yang kadarnya mungkin sama dengan kerinduanku. Maka kami seolah mirip dengan frekuensi radio, hanya bisa tersambung ketika frekuensi kami sehati.

Di rak itulah kutemukan majalah-majalah yang amat memikat hati dari sampul hingga isinya. Pertama kali kubuka sampulnya, Ia seolah menggodaku untuk selalu bercengkrama dengannya. Ia juga menawarkan berbagai keindahan ilmu pengetahuan. Yang syarat akan kemanfaatan. Maka butuh banyak waktu, Aku telah terpikat akan satu hal yang namanya majalah. Setiap kali Aku masuk perpustakaan, selalu aku sempatkan untuk menilik dan mengambil salah satu majalah untuk kubaca sebagai selingan membaca buku-buku medis yang tebalnya minta ampun itu.

Seringkali kubayangkan tulisanku bisa dimuat di majalah itu, dan dapat di baca oleh khalayak. Maka alangkah senangnya hati ini. Oleh karena itu Aku sering mengirimkan tulisan-tulisanku ke redaksi majalah itu. Dan senantiasa berharap tulisanku akan di muat dengan gagah di majalah itu. Serta namaku akan terpampang dengan huruf bergaya miring tepat di bawah judul tulisanku. Tapi naas puluhan tulisan yang telah kukirim melalui e-mail tak juga di muat di edisi-edisi berikutnya. Bahkan hanyabsekedar balasan pemberithuan atas penolakan tulisanku pun tak ada. Tapi Aku sadar betul mungkin tulisan ku kurang bagus tak sesuai kriteria redaksi. Tapi cintaku akan majalah tersebut tak pernah pudar meskipun hanya secuil saja. Malahan bisa dibilang cintaku makin bertumpuk-tumpuk padanya.

***

Beberapa hari yang lalu surat undangan datang melalui emailku. Dan di undangan itu tertera namaku dan asal kampusku. Awalnya aku masih bimbang, apakah bisa atau tidak menghadiri undangan tersebut. Pasalnya ada agenda yang amat penting dan bertepatan dengan acara yang tertera dalam undangan tersebut.

Tapi akhirnya setelah mendapat persetujuan pihak kampus, akhirnya berangkat juga Aku ke kota dimana gudek populer disana. Pagi-pagi betul aku sudah bersiap dengan segala perlengkapan yang aku butuhkan. Di ufuk timur matahari belum kelihatan batang hidungnya. Sehingga jalanan masih agak gelap. Motor, mobil, serta kendaraan lain masih menyala lampunya ketika tengah melintasi jalan raya. Hawa dingin di pagi buta seakan menancapkan taringnya di sekujur tubuhku.

Perjalanan dari Lamongan ke Yogyakarta itu berlangsung kurang lebih selama sembilan jam. Perkiraannya hanya delapan jam sudah sampai. Semua itu lantaran kelakuan sopir bus yang tak tahu sopan santun, di tengah perjalanan Ia melanggar lalu lintas yang jelas-jelas Ia tahu. Tapi mungkin tabiat seorang sopir bus adalah macam demikian, penuh pemberontakan, sekehendak hatinya sendiri, serta amat tak peduli dengan aturan. Maka beginilah jadinya. Kami, aku dan penumpang lainnya harus menunggu prosesi penilangan sopir bus di kantor polisi itu. Pengalaman naik bus selama sembilan jam itu, sempat membuatku ketar-ketir lantaran sopir bus yang penuh nyali. Lebih dari dua kali bus yang kutumpangi hampir berciuman dengan truk-truk bermuka garang itu.

Tepat jam setengah lima sore kami sampai di tujuan. Ternyata acara telah dimulai beberapa menit yang lalu. Rapat itu mulanya berjalan panas, sebelum kedatangan kami. Setelah kami meminta izin, permisi memasuki ruangan rapat itu. Semuanya sempat membeku beberapa saat. Kami telah menarik perhatian puluhan orang yang telah berserius ria. Alias telah memporak-porandakan ketegangan untuk sementara waktu. Oleh karena itu aku sedikit gentar memasuki ruangan tersebut. Tapi kegentaranku seketika luruh, setelah mereka tersenyum mempersilahkan kami duduk.

Kemudian rapat berjalan dengan khidmat selama hampir lima jam lamanya. Dan alhamdulillah semu permasalahan telah menemui titik temunya. Kami telah bermufakat atas hasil yang telah didapat. Tepat pukul sepuluh kurang beberapa menit rapat telah usai. Sempat beberapa menit kita saling berbasa-basi dengan peserta lainnya. Hanya sekedar untuk bertukar pengalaman.

Lantas kami segera berjalan menuju jalan raya untuk mencari taxi. Diperjalanan aku sempat di tertawakan oleh kedua temanku lantaran pengakuanku, yang baru pertama kalinya Aku berkunjung ke jogja. Tapi Aku tak terlalu mengambil hati atas pelecehan kedua temanku itu.

Hingar-bingar malam di jogja amat jauh berbeda dangan suasana malam di kota ku. Jalanan masih agak ramai dipenuhi motor-motor yang berkeliaran kesana kemari. Di bibir jalan beberapa remaja tengah santai mengayuh sepeda. Lantunan musik jawa atau keroncong mengalun lirih bersama petikan ukulele. Remaja-remaja tengah bersuka cita di pnggir-pinggir jalan. Di trotoar yang terlihat membisu.

Mataku dari tadi tak kunjung berhenti lirik sana lirik sini. Pandanganku menyisir seantero yang dapat kulihat. Dua orang didepanku berjalan dengan langkah pasti. Seolah mereka sudah tidak terpesona lagi akan indah nya malam di kota gudeg itu.

Tiba-tiba disalah satu sudut di kanan jalan. Mataku terbelalak tidak percaya. Aku mengucek-ngucek mata, memastikan bahwa ini bukanlah mimpi. Bahwa yang kulihat di depan sana adalah tempat cinta keduaku di lahirkan. Di sana adalah pusat dimana cinta-cintaku berpendar. Di atas toko itu sebuah tulisan balok memancarkan cahaya merah. Yang terbaca: SUARA MUHAMMADIYAH. Dua orang sahabatku memberitahukan bahwa itulah pusat atau kantor induk majalah di produksi.

Maka dengan kegembiraan yang meluap-luap. Dan mata yang berbinar-binar lantaran sedikit harapanku telah terpenuhi. Lantas kusuruh salah satu kawanku mengabadikan momen itu dengan berfoto di depan kantor utama majalah yang sering di singkat SM itu.

Tapi aku sedikit kecewa lantaran kantor itu telah tutup karena sudah larut. Tapi biarlah dengan sekuat tenaga aku mengikhlaskannya.

Senin, 31 Agustus 2015

Janji Kehidupan

Ditempat itu derita bertumpuk-tumpuk di setiap sudutnya. Malaikat pencabut nyawa bertaburan di setiap pintu-pintu ruangan. Bersiap siaga menarik ulur kehidupan. Alangkah menakutkannya. Di tempat itu kehidupan jaraknya amat dekat dengan kematian munkin hanya sebatas satu jengkal jari saja.

Dinding putih, lantai putih, kerangka bayang pun berwarna putih. Tapi putih yang satu ini bukanlah putih kesucian. Melainkan lebih condong pada putih ketiadaan. Entah dari mana asal muasal warna tersebut. Jika menatapnya lamat-lamat aku seolah-olah terseret ke dunia yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Tak terperi pilunya.

Ditempat ini janji kehidupan di umbar dalam hitungan rupiah. Seolah nyawa bisa tertolong jika kau mengantongi rupiah dalam dompetmu. Jika sedikitpun tak ada, maka bersiap-siaplah enyah dari tempat ini, jangan harap kehidupan dan kematian berjarak sejengkal lebih. Boleh jadi akan kurang dari itu.

Pagi itu adalah hari pertama Aku berada di tempat ini. Perasaan canggung bercampur bingung menyelimuti pikiranku. Bahkan aku sempat ketakutan melihat pak tua bersimbah darah, lantaran jempol nya telah raib setengah bagiannya. Katanya gergagi barusan telah memotongnya secara tidak sengaja. Melihat dan mendengar kejadian itu. Bulu kudukku berdiri dengan sendirinya. Aku menelan ludah.

Kupandangi orang-orang bermuka gelisah. Duduk di kursi yang teronggok di teras sambil membawa sebotol cairan yang terhubung ke lengan orang-orang itu dengan selang seukuran sedotan air kemasan. Mereka mengankatnya tinggi-tinggi. Pandangan mereka memiliki makna keputusasaan, penderitaan, ketidakbebasan, bercampur ketidaknyamanan. Tapi mereka masih punya satu harapan, yaitu janji kesehatan.

Setiap kali ku sambangi mereka saban pagi. Hanya satu pertanyaan yang seringkali dilontarkan. 'Kapan Aku bisa pulang Pak?'. Aku cukup tersenyum membalas pertanyaan itu. Sambil mendoakan semoga lekas sembuh.

Disaat-saat seperti itu sering aku menghela napas dalam. Lantas memalingkan pandangan ke arah jasmine-jasmine yang baru saja bermekaran di depan teras itu. Hanya merekalah yang senantiasa tabah mendengar keluh kesah. Pasien-pasien puskesmas itu.

Para petugas kesehatan adalah orang yang paling kejam. Bagaimana tidak hidup mereka dari uang orang sakit. Bahkan mereka tertawa riang satu sama lainnya. Ketika orang sakit bertambah jumlahnya. Bukankah itu amat memuakkan. Tapi anehnya lagi si orang sakit itu menaruh harapan besar pada orang-orang petugas kesehatan itu.

Minggu, 23 Agustus 2015

Whiplash

"Charlie Parker tak tahu siapapun sampai Jo Jones melempar simbal ke kepalanya", Kata Neiman menimpali pamanya.

"Itukah pemikiranmu akan sukses?", Pamannya memotong pembicaraan.

"Menjadi musisi terbaik di abad 20 adalah ide semua orang akan kesuksesan.", Neiman melanjutkan pembicaannya yang sempat terpotong.

"Meninggal dalam keadaan bangkrut dan seorang pecandu pada usia 34 tahun bukan pemikiranku akan kesuksesan.", Ayah Neiman mencoba membela diri. Lantaran dipandang saudaranya bersalah atas kelakuan anaknya.

"Aku lebih baik begitu, tapi orang membicarakanku dibanding kaya dan meninggal di usia 90 tahun, tapi tak ada yang mengingatku.", dengan percaya dirinya Neiman berucap, Seraya menatap pamannya dengan tajam.

Sebelumnya Aku sempat tercenung memikirkan hal itu. Percakapan diatas adalah secuil perkataan amat menancap selama menyimak film 'Whiplash'.

Dalam film tersebut Neiman, laki-laki berumur 19 tahun. Dengan segala impiannya yang amat muluk. Ingin menjadi seorang musisi inti dalam sebuah grup band jazz sebagai penabuh drum. Di universitas Shaffer, satu-satunya sekolah musik terbaik di negaranya.

Tapi perjalanan meraih impian itu tidak semudah membalik telapak tangan. Meskipun boleh dibilang Ia amat berbakat. Kekecewaan, keputus asaan, dan derai air mata berlinang-linang dalam usahanya.

Yang paling mengesankan adalah pemikiran Neiman akan kesuksesan. Jauh melenceng dari pemikiran orang pada umumnya. Jadi cakupan kesuksesan itu amat luas maknanya. Mungkin bisa dibilang sukses itu relatif.

Minggu, 09 Agustus 2015

Takdir Yang Telah di Gariskan

Beberapa hari yang lalu. Ketika sedang berada di tanah kelahiran Karaeng. Aku amat gamang lantaran baru pertama kalinya. Semuanya asing, bahasa mereka asing di telingaku. Aku tak mengerti apa yang orang-orang bicarakan di warung makan yang tepat berada sebelahku duduk saat itu. Juga lingkungan yang asing. Tak biasa aku melihat anjing bebas berkeliaran mirip anak ayam di kampungku. Juga tebing yang yang melingkar dan berselimut pepohonan didepanku. Indah memang, pemandangannya tapi semuanya asing bagiku. Aku belum terbiasa.

Sesekali angin berhembus kencang menyapu debu juga dedaunan kering yang berserakan di lapangan seolah tak suka akan kedatanganku. Sejak jam di tanganku menunjuk pukul 09.00 udara di sekitar tebing ini menjadi semakin panas. Sehingga kesan dahaga srmakin melekat di tenggorokanku. Bawaannya ingin minum terus. Tapi disini semuanya memakai uang dan harganya dua sampai tiga kali lipat harga barang di Jawa Timur. Pedagang disini menurutku sungguh tidak adil, tidak berbelas kasihan. Seolah mereka telah menjadi kapitalis sejak lahir. Amat matrialis para pedagang-pedagang disini. Semuanya di jual sesuka hati, dengan harga setinggi tebing didepanku. Pintar sekali mereka memanfaatkan teori ekonomi. Bahwa disini demand lebih banyak dari pada suply. Oleh sebab itu mau tidak mau Aku harus bersikukuh menahan dahaga yang menggebu-gebu itu.

Saat itu adalah hari pertama dimana aku menjalani mandat kampus. Masih sekitar 9 hari aku tinggal di tanah makassar itu. Dan jika ingin hidup mau tak mau Aku harus pandai memanage uang. Agar cukup untuk hidup selama itu.

Kurang lebih empat jam berselang. Kuhabiskan dengan bercakap-cakap dengan seorang teman yang sejak tadi duduk bersamaku di atas bayang yang terbuat dari bambu.

Didepanku anak-anak kecil berlarian saling kejar satu sama lain. Mereka terlihat riang sekali. Seolah terpancar kecerian di sekitar kami. Gelak tawa pun berhamburan di sembarang tempat. Melesat liar bak molekul-molekul atom di tabung reaksi. Aku amat suka suasana saat itu.

Di tengah-tengah kecerian anak kecil itu terlihat kakek tua sedang berjalan memakai tongkat. Awalnya Aku tak mengira bahwa kakek itu akan sangat akrab dengan kami-- Aku dan Kawanku--hari-hari selanjutnya.

Kian lama, aku kian tahu mau kemana Kakek itu. Dari kejauhan Aku sedikit memperhatikan kakek tua itu. Jalannya amat pelan dan sedikit terseok-seok. Tapi untungnya ada tongkat yang membantunya berjalan. Maklum beginilah orang tua umumnya. Penampilannya amat menarik. Dari atas Ia memakai topi rimba. Rambutnya hampir keseluruhan memutih. Memakai seragam baju HW. Tapi bawahannya memakai sarung. Agak kurang pas memang. Tapi umur lah yang seolah membuat semua itu wajar dan bisa di terima.

Kini Beliau telah berada dalam jarak komunikasi efektif denganku. Ia duduk di bayang yang Aku dan temanku sedang duduki saat itu. Tanpa di suruh orang tua tadi berbicara semaunya seolah sedang bercerita. Memang ia sedang bercerita. Tapi tak tahu sedang menceritai siapa. Maka dengan sebuah ketidak sengajaan aku dan temanku mendengarkan pak tua tadi bercerita.

Ia bercerita banyak tentang anaknya yang tak begitu pandai dibsekolah. Tentang pengalamannya selama menjadi guru dulu. Tentang pengalaman sewaktu kecil beliau di Flores. Dan yang paling berkesan adalah cerita beliau tentang anak didiknya yang tak pandai dalam akademik. Namun karena anjuran beliau untuk tetap bersekolah. Dikemudian hari beliau bertemu dengan anak didiknya itu saat sudah menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya.

Aku amat berterimakasih dengan takdir yang telah di gariskan Tuhan. Bahwa di dunia tidak ada yang kebetulan. Semuanya terjadi karena sebab akibat yang telah kita prrbuat di hari sebelumnya. Begitu juga dengan pertemuan dengan setiap orang. Bahwa semuanya telah di takdirkan. Dari beliau, Bapak Yusuf Ismail yang berusia 68 tahun ini banyak pelajaran hidup yang kuperoleh. Dan jarang sekali kutemukan di bangku perkuliahan.

Pembicaraan pun berakhir dengan kegembiraan di air terjun Bantimurung. Kami bersama-sama mengguyur lelah di bawah derasnya air terjun.

Minggu, 21 Juni 2015

Empat Jarum Sialan

Ini hari adalah hari pembalasan. Dua hari yang lalu empat jarum yang ujungnya selancip sengatan lebah kulayangkan pada daerah tubuh kawanku. Jika bukan karena tuntutan perkuliahan mana tega Aku menyakiti kawanku sendiri.

Aku masih ingat betul ruang ujian nan pengap oleh rasa cemas. Seolah kepengapan bercampur aduk dengan kecemasan kemudian mencekatku dari segala penjuru. Napasku agak sesak sebab sebentar lagi giliranku menancapkan jarum suntik pada urat nadi kawanku sendiri. Aku agak gamang sebab ini pertama kalinya dalam hidupku. Kemungkinan-kemungkinan buruk mulai berdatangan di benakku.

Disini nyawa dipertaruhkan. Ini manusia bukan benda yang tak bernyawa macam sepeda motor. Batinku bergejolak. Bagaimana jika nanti jarum yang kutusukkan menambat tulang, pastinya ngilu bukan main serta merta menyiksa kawanku. Atau bagaimana jika jarum yang kutusukkan memotong saraf-saraf kecil yang bersandar di sekitar pantat, akibatnya kawanku akan mengalami kelumpuhan total. Kemudian Aku akan dituntut untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku barusan di kantor polisi. Sudah jelas kesalahanku tak tertampikkan lagi. Hingga akhirnya Aku akan mendekap di balik jeruji. Ya Tuhan semoga semua itu tidak terjadi.

Bagaimanapun Aku bersikeras menenangkan sikap. Sok santai seolah tak ada yang perlu dicemaskan. Aku tetap tidak bisa bersikap setenang air dalam gelas. Yang ada, pikiranku kalut. Entah kenapa rongga dada juga terasa sesak. Dan degup jantungku berpacu kencang senada dengan hentakan kaki kuda dalam sebuah pacuan. Tapi semua itu Aku bungkus rapat-rapat didalam ekspresi wajah nan datar.

Namaku telah di panggil Dosen penguji. Lantas aku berdiri di samping dipan berwarna hijau, khas sekali macam dipan-dipan di rumah sakit. Di depanku, seberang kasur duduklah Dosen penguji yang bermuka penuh tipu muslihat. Senyumnya sulit untuk diartikan. Kini Aku harus berhadapan dengan sesuatu yang betul-betul asing. Botol-botol rendah nan gendut berjejer memilukan di antara peralatan medis lainnya. Bak instrumen berkilat-kilat, di dalamnya teronggok empat jarum suntik yang mengerikan di ujung-ujungnya. Disitulah pusat gravitasi ketakutan terbesar berbalut resiko mengerikan.

Didepanku sudah terbaring pasrah kawanku. Seolah Ia menyerahkan seluruh hidupnya padaku. Pandangannya memliki arti: berhati-hatilah kawan ini soal nyawa pertaruhannya. Aku menatap dengan sangat bijaksana, berlagak seolah aku ini seorang ahli. Pekerjaan remeh-temah ini bukan apa-apa untukku. Jadi bermakna: tenanglah kawan, hidupmu akan baik-baik saja di tanganku.tenanglah kawan ya! Tapi yang sebenarnya, berkali-kali batinku menguatkan ragaku. Gamang kawan. Gamang bukan buatan.

Dua belasan kawanku lainnya mulai mengerubungi dipan tempat kawanku berbaring. Seperti sekumpulan semut mendatangi butiran gula. Ruang gerakku mulai menyempit. Mereka berdesak-desakan satu sama lain. Ingin tahu apa yang tengah kukerjakan. Mereka ricuh sekali seperti anak balita yang ditinggal pergi ibunya. Ruangan menjadi agak tegang untukku. Namun bagi mereka ini adalah hiburan yang rugi untuk disia-siakan. Itu terbukti dari tawa mereka yang lepas ketika tahu aku sedang gamang. Tremor sekujur tubuhku.

Titik-titik keringat mulai menyembul sebesar biji jagung di jidatku. Keringat dingin mulai kurasakan. Diam-diam telah keluar dari telapak tenganku. Tinggal hitungan detik. Kini jarum suntik persis berada satu senti diatas pantat. Sudutnya sembilan puluh derajat. Tegak lurus dengan pantat. Siap menukik tajam tanpa ampun. Kawan-kawanku berdecak kagum ini fase orgasme hiburan bagi mereka. Mereka semakin tak sabaran menunggu jarum menelisik masuk pantat.

Secera reflek jarum yang tajam tadi telah lunas masuk dengan kedalaman 3 cm di pantat kawanku. Anak tadi mengaduh kesakitan akibat ulah jarum sialan yang kupegang laksana pensil saja. Didepanku, aku tak kuasa melihat penderiataan yang kubuat sendiri. Tiba-tiba tubuh pasien yang tak lain adalah kawanku sendiri. Menjadi-jadi bergetar-getar kencang seperti getaran Truck yang mesinnya mulai dihidupkan. Aku mulai kalut dengan kejadian ini. Sedang dosen penguji yang duduk didepanku tak memperdulikanku. Malahan Ia sedang sibuk dengan smartphone digenggamannya. Pemandangan lainnya yang menjengkelkan adalah kawan-kawanku yang melingkari dipan tengah di sengat rasa senang tak kepalang. Mereka tertawa-tawa kencang sambil menahan sakit di perutnya dengan tangan. Ini bukan kejadian lucu bung. Titik keringat makin deras mengalir dari raut wajahku.
###

Rabu, 10 Juni 2015

My Adventure Today

Pagi ini sungguh mendebarkan. Semalaman Aku resah. Tidur pun tak nyenyak rasanya. Persepsiku mulai terpusat pada satu permasalahan. Bisa dibilang Aku tengah mengidap ansietas ringan.

Ketika matahari mulai menampakkan ujung kepalanya diatas garis cakrawala ujung timur saat itulah Aku semakin menjadi-jadi. Aku mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tak terperikan. Mulai dari tumpangan, jalan, serta tempat yang kutuju nanti. Aku buta semua itu. Ini adalah kali pertama Aku pergi sendiri ke kota besar macam Surabaya.

Aku menghela napas berkali-kali. Gelisah, banyak sekali masalah yang menumpuk dalam penat. Tak mungkin kuceritakan satu-persatu kawan. Sebab tak terlalu penting jika kau tahu. Tak ada faedahnya secuilpun untukmu kawan. Ditambah pagi ini Aku harus berangkat ke Surabaya. Mengikuti pelatihan Management Mahasiswa di kantor Kopertis 7.

Sekali lagi Aku harus bersyukur. Seorang yang biasa kupanggil Mister bersedia memboncengku ke tempat tujuan. Satu masalah terselesaikan. Aku boleh sedikit relax.

Perjalanan naik motor dari Lamongan ke Surabaya. Lancar-lancar saja. Cuaca pun kiranya agak mendukung. Matahari melaksanakan tugasnya dengan baik. Awan-awan berjejer tipis-tipis di sekitarnya. Motor bebek yang kami pun demikian, Ia mengemban tugas dengan baik. Tak rewel sedikitpun. Dengan lincah Ia meliuk-liuk di antara padatnya lalu lintas jalanan kota. Truk-truk yang besarnya amit-amit pun penampakannya juga. Jauh dari potongan rapi alias dekilnya minta ampun. Berkali-kali menepis motor kami. Sial nian truk-truk itu! Pekikku dalam hati.

Soal lalu lintas Alhamdulillah kami selamat sampai tujuan. Masalah berikutnya aku terlambat menghadiri acara. Dari kejauhan dapat kulihat dari balik kaca yang samar-samar. Empat puluhan peserta sudah duduk takzim di kursi masing-masing. Aku agak gamang dengan pemandangan ini. Aku lihat seorang wanita setengah baya yang duduk di depan pintu masuk menatapku sinis. Seakan aku telah berbuat dosa besar. Apa maksudnya ini kawan?...

Minggu, 31 Mei 2015

Aku dan Beberapa Pasang Kaki Lainnya

Akan kuceritakan secuil tentang asal muasalku yang tidak begitu penting kawan. Tentang suatu kawasan yang tidak terlalu diperhatikan dalam suatu peradaban. Disanalah aku pertamakali menjejakkan kaki kecilku. Bersama kaki-kaki kecil lainnya yang kini telah raib. Mereka satu persatu meninggalkan kampung. Rasanya waktulah yang telah memaksa.

Tidak ada yang istimewa ditempat itu kawan. Bahkan warung kopi dari jaman penjajahan hingga kini hanya ada satu yang masih bercokol disana. Jika saja warung kopi itu bisa bercerita Ia mungkin akan menjadi warung kopi bermulut besar. Karena sebab musabab berumur panjang. Seperti para orang-orang tua yang kita temui kawan, mereka lebih banyak beromong besar karena mengawali hidup lebih dulu dibanding kita.

Kampungku memang bisa dibilang pelosok. Lokasinya pun rawan akan perkelahian. Itulah yang sering terjadi jika bernasib hidup diperbatasan, akan sering terjadi selisih paham lantaran perbedaan adat serta budaya. Tidak satu dua kali kampungku terjadi baku hantam dengan kampung lain. Masalahnya sepele kawan, jika tidak karena kompetisi bola antar kampung, ya karena orkes musik dangdut. salah senggol dianggap menantang. Riskan memang!

Tapi bagaimanapun juga itulah kampungku. Kampung yang berbentuk kunci pintu jika dilihat dari google map. Menaruh banyak kenangan didalamnya. Kenangan tentang euforia bermain bola di musim hujan, hingga akhirnya pulang dengan tubuh belepotan berselimut lumpur, tapi lihatlah kami tak pernah sedikitpun jijik akan bau lumpur itu. Malahan kami masih sempat tertawa riang sambil lempar melempar lumpur satu sama lain. Syahdu sekali pamandangan kali itu. Begitulah aktivitas setiap sore.

Malam hari dilanjutkan dengan menyeduh secangkir kopi di warung kopi yang baru saja kuceritakan tadi kawan. Itulah pelepas dahaga untuk hari yang selalu terasa melelahkan. Percakapan-percakapan nan tak tertangguhkan tiada henti-hentinya mengalir. Malah semakin lama semakin deras. Itu bukanlah percakapan ilmiah yang sering kalian lakukan di tembok-tembok universitas, tentang suatu teori, tentang konsep ekonomi, atau tentang hal-hal rumit lainnya. Tapi itu hanyalah percakapan sepele kawan. Jika tidak tentang babi hutan yang merusak tanduran warga sian tadi. Ya tentang birokrasi kampung yang semakin bobrok karena ketuanya memakan uang pembangunan. Tiada habisnya, dua topik yang sangat melelahkan.

Kepulan asap rokok serta aroma kopi berpaduan dengan nada-nada lucu petikan gitar. Iya, bernyanyi adalah cara terbaik untuk memutus rantai percakapan yang tiada hentinya itu. Lihai sekali kawan-kawanku dalam bermain musik, tak ada musik cengeng yang mengalun diantara aroma seduhan kopi malam itu. Rasanya tak ingin malam terlalu cepat beringsut ditelan pagi. Kami tak mau itu cepat terjadi.

Sudah kawan Aku tidak mau memperpanjang cerita tak penting buatmu itu. Tapi setidaknya disinilah kami mulai merajut mimpi. Mengais-ngais harapan meskipun tak pernah jelas adanya. Mencoba segala peruntungan meskipun seringkali kami menuai kebuntungan. Kini kami, aku dan beberapa pasang kaki lainnya telah tunggang langgang meninggalkan kampung nan permai diselimuti hamparan sawah dan kali-kali kecil mengalir di pinggiran kampung. Setiap pagi kicaun burung pemakan biji selalu terdengar di sela pepohonan. Mencuri makanan dari sawah warga. Aku tak akan lupa itu. Aku yakin mereka juga.

Waktu telah memaksa kami untuk beranjak pergi. Menjemput mimpi yang kami sendiri tak tahu pasti dimana adanya. Biarlah kami sudah terbiasa berteman dengan ketidakpastian dalam mengais mimpi. Semoga ada satu kesempatan dimana kita bisa menjejakkan kaki bersama-sama ditempat pertama kita bermula.

Aku dan kawan-kawanku, para pesakitan.

Kamis, 28 Mei 2015

Rasa Takut

Takut salah, memang itu dua kata yang sering muncul ketika seseorang dihadapkan pada hal-hal baru yang terlihat ganjil. Belum pernah menyentuhnya. Bahkan melakukannya.

Ini tentang kejadian beberapa minggu yang lalu. Tepatnya dua minggu yang lalu. Seorang foreigner asal Pakistan datang ke kelas mengajar kelas bahasa inggris kami. Untuk kali pertama. Jadi bisa dibilang ini adalah hal baru.

Layaknya sebuah perhelatan akbar. Seluruh partisipant kelas bahasa inggris dituntut untuk on time, tepat waktu. Jam 01.00 tepat, apapun alasannya kami sudah harus duduk takzim dikursi masing-masing. Seolah seperti perintah keramat, Aku takjub tak ada seorang pun yang datang melebihi jam satu. Padahal biasanya kami datang seenaknya sendiri, tak tahu malu meskipun telat lebih dari seperempat jam masih saja nyelonong masuk. Seolah tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Itulah kawan pertanda penyakit jiwa, tidak sadar bahwa telah berbuat salah.

Ruangan kelas sejenak lengang. Duapuluhan peserta yang duduk membentuk formasi U. Sibuk dengan persiapannya sendiri. Muka-muka bertabur rasa cemas, khawatir, juga was-was tersirat di ruang ini. Beberapa sibuk dengan tumpukan buku tebal yang berada didepan nya masing-masing. Beberapa lainnya sibuk bertanya pada temannya untuk memastikan apakah sudah benar atau belum. Iya, nanti satu-persatu peserta wajib bertanya dengan bahasa inggris pada foreigner asal Pakistan itu.

Jantungku berdegup semakin kencang ketika jam yang tergantung di dinding sebentarlagi memeluk angka satu. Tak bisa dipungkiri aku pun merasa cemas. Bagaimanapun juga nantinya kami harus bertanya pada orang Pakistan yang sekalipun belum pernah Aku berjumpa dengannya. Kecemasan ini tak kunjung sirna meskipun berkali-kali kucoba menepisnya dengan menghela napas.

Beberapa saat kemudian daun pintu terbuka. Tiga pasang kaki melangkah bergantiab perlahan. Tidak salah lagi itulah orang Pakistan yang berhasil menciutkan mental kami. Dari mukanya sudah bisa kukenali bahwa Ia bukanlah penduduk suku jawa, bahkan dari Sabang sampai Merauke tak pernah kujumpai raut muka seperti itu. Kesimpulannya ialah dia bukan penduduk bangsa satelit ini.

Jantan sekali dandannya. Sepatu cokelat alas tebal. Celana jeans biru model rock n roll. Kemeja hitam lengan panjang. Dan raut muka bule, gaya rambut yang jauh kriteria alay. Cukup potongan tipis dua tiga centimeteran. Gila, para perempuan yang tadinya beraut muka seperti orang kena kutukan. Dalam hitungan beberapa detik raut muka menyedihkan itu longsor. Aku yakin mereka berbunga-bunga hatinya melihat lelaki macho, macam orang Pakistan itu.

Tugasnya disini adalah mempresentasikan negaranya dengan bahasa Inggris. Ia lancar sekali berbahasa inggris, menerangkan pada kami tentang lika-liku negaranya. Aku hanya tafakur seolah mengerti betul apa yang dia omongkan. Padahal blas. Sesekali aku menganggukkan kepala, biar dibilang mafhum.

Akhirnya tibalah dipenghujung acara. Mau tidak mau kami harus berranya padanya. Seluruh peserta saling tatap satu sama lian. Yang mengandung makna tersirat: ayolah kau duluan kawan! Inilah kawan hal baru. Belum pernah sekali dalam hidup kami bercakap-cakap dengan orang asing.

Berat sekali bibir kami melontarkan kata. Rasa takut seakan mengunci mati lubang mulut kami. Aku bergidik ketika tak seorangpun berani mengacungkan tangan. Mereka saling tatap tak bertanggung jawab berlagak bodoh. Inilah kawan rasa takut yang selalu menjadi tembok penghalang bagi orang-orang yang labil. Sudah dulu kawan aku tak bisa melanjutkan cerita ini. Hari-hari ini deadline seperti mengejar dibelakangku sambil membawa golok.

Rasa takut kawan

Senin, 25 Mei 2015

Candu Menulis, Membuatku Sial Kali Ini

Sial, Sial nian nasibku kali ini. Kali ini menulis membuatku celaka. Sudah satu jam setengah lamanya aku tenggelam dalam candu menulis. Waktu serasa menguap tak terkira secepat kilat. Aku larut dalam buih-buih keriangan. Perasaan senang yang artinya terlalu menikmati rutinitas. Memang aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menyisihkan beberapa saat dalam sehari untuk menulis. Melampiaskan hasratku yang berhamburan.

Rasanya tak terperikan jika ada satu hari saja yang terlewati tanpa pernah aku menulis. Jika itu kejadian, hati serasa mengganjal seolah mengidap hepatomegali. Sejenis penyakit pembesaran hati. Perasaan sangat berdosa secara tiba-tiba akan muncul tanpa pernah aku tahu penyebabnya. Lalu kemudian aku akan mengutuki diriku sendiri. Menyesal dalam-dalam. Lantas tidur pun tiada pernah merasa nyenyak. Jika bisa sesaat aku terseret lelap. Itu hanya kelihatannya saja. Padahal sebenarnya aku tengah di kejar-kejar makhluk buruk rupa dalam mimpiku ketika itu.

Entah candu apa yang sedang menyelimutiku. Padahal tak ada se-gram pun zat aditif yang menelisik di lambungku. Meskipun itu hanya semacam tar salah satu kandungan rokok. Tak ada terselip dalam lambungku. Tapi sejujurnya aku tak pernah sesali rasa canduku terhadap menulis. Malah Aku merasa bersyukur sekali. Semoga Tuhan selalu melimpahiku dengan kecanduan menulis. Itulah sepotong doa yang kulayangkan sehabis sholat. Bahkan setiap waktu.

Bagiku menulis adalah pekerjaan yang mulia. Selain melampiaskan hobi. Lebih-lebih lagi mampu mendapat pahala dari sebuah hobi. Menyampaikan informasi, berdakwah lewat tulisan, yaitu menyampaikan ilmu-ilmu yang masih melekat dalam benak untuk disampaikan pada orang yang berkenan membacanya.

Kurang lebih sudah sepuluh bulan lamanya hobi menulis ini mematut-matut diriku. Itu artinya dua bulan lagi genap berumur satu tahun candu menulisku ini. Aku bertingkah layaknya orang berpenyakit waham. Sejenis penyakit yang menyerang jiwa yaitu terlalu over dalam melakukan sesuatu. Mulai dari menulis di status facebook, berupa artikel, esai, puisi. Atau sepotong kisah konyol. Dan itu kulakukan setiap hari. Dan jika aku membaca ulang tulisan ku pada masa yang berlainan. Sudah pasti aku akan terpekik sendiri. Malu melihat rangkaian-rangkaian kata itu. Aku terlalu over confident terhadap tulisanku. Sehingga tak jarang aku mengirimnya pada berbagai media seperti majalah. Hasilnya pun nihil. Tak ada suatu majalah yang bersedia menerbitkannya. Bahkan konfirmasi penolakan lewat email pun tak ada. Aku jadi riskan memikirkannya. Seburuk itukah tulisanku?

Katakanlah Aku pengecut atau pecundang jika hanya karena penolakan lantas kuhentikan kegiatan paling kusuka ini. Aku sudah terlanjur mengenal kebaikan-kebaikan menulis. Menulis mampu membawa Islam menaklukkan Eropa pada pertengan abad lalu. Mendirikan pusat peradaban pendidikan terbasar Islam di Andalusia. Juga melahirkan filsuf-filsuf Islam yang keterlaluan pandainya. Tengok saja Ibnu Rusyd (averous), Al-Ghazali, Al-Farabi, dan raja diraja dokter Ibnu Sina (Avicenna). Semuanya adalah penulis yang selalu hidup jiwanya meskipun secara fisik sudah terkulai dalam timbunan tanah jasadnya. Sebab telah terpaku jiwanya, perasaannya, juga pemikirannya dalam tulisan-tulisan yang dibukukannya.

Rasanya aku sudah terlanjur dibius kemuliaan candu menulis. Mengenal, pemikir-pemikir kuno, idealis-idealis kontemporer, juga penulis tanah air yang tak kalah ketajamannya dalam mengikat makna. Aku terpesona keelokan ilmu yang berpendar dibalik rangkaian kata, yang tertangguhkan diantara huruf-huruf, yang menunggu pembaca bersedia memanennya. Syahdu sekali ilmu-ilmu itu. Tak mungkin bisa disejajarkan dengan rupiah, bahkan dolar sekalipun. Sudah pasti ilmu terlalu banyak nilainya.

Bagiku tempat curhat yang selalu berbaik hati adalah lampiran kertas-kertas kosong. Benda yang terelok didunia ini bagiku adalah lampiran kertas-kertas kosong itu. Akan bernilai melebihi emas jika tepat dalam mengisinya.

Candu menulis, membuatku sial kali ini. Kini aku harus rela tergopoh-gopoh menuju kamar mandi lantas mandi dengan prioritas basah. Itu semua karena aku melangkahi pukul 07.00 dimana aku sudah harus siap duduk takzim mendengarkan dosen. Berpakain rapi putih-putih, dengan spatu fantofel yang tersemir licin, memakai jam tangan ditangan sebelah kiri. Lantas di akhiri dengan potongan klimis di sisir ke salah satu sisi. Tapi nyatanya tidak. Saat ini aku tengah berlarian di koridor menuju kelas. Setelah kulihat jam yang menggantung di jidat dinding menunjuk pukul 07.13. Sudah dulu ya kawan aku hendak kuliah dulu! Dan aku akan tetap menulis. Jangan kuatir!

Jumat, 22 Mei 2015

Percakan Malam

Awalnya aku berniat untuk mengikuti kelas malam bahasa Inggris. Tapi setelah melihat kelas, hanya ada empat orang yang tengah menyelesaikan tugas bahasa inggris. Lantas mereka memberitahu bahwa tak ada kelas malam hari ini. Alias libur.

Setelah mengetahui hal itu. Aku memutuskan untuk kembali, setelah berpamitan pada mereka beberapa saat lalu. Membalikkan badan dan melangkahkan kaki. Melihat lurus kedepan. Koridor lantai dua lengang usai maghrib. Tak ada seorang pun yang berkeliaran, meskipun hanya duduk-duduk di salah salah satu kursi panjang yang berada di depan setiap kelas.

Tapi pada langkah yang belum melebihi delapan. Seorang bersweater dan tergantung ransel dipunggungnya keluar dari salah satu ruangan yang aku tahu itu adalah ruang dimana mahasiswa dapat menunaikan sholat. Persis delapan meter didepanku.

"Hei boy!", berjalan sigap sambil melambaikan tangan kearahku. Dan sedikit tersenyum tipis.

" Darimana Mr!", spontan tanyaku padanya. Aku tahu persis siapa dia. Aku biasa memanggilnya Mr. Ismed. Dialah orang yang memberi perkuliahan bahasa inggris pada malam ini. Mengajariku berbicara bahasa inggris selama kurang lebih sudah dua bulan lamanya. Tapi Speaking ku masih acak-acakan terkadang salah Grammar, tidak hanya satu dua kali tapi mungkin sudah ratusan.

Kemudian beberapa saat lagi. kami akan terlibat pembicaraan yang cukup panjang. Aku mengurungkan niat untuk pergi. Dan memilih duduk disalah satu kursi panjang di depan kelas.

"Fat tolong persiapkan beberap pertanyaan untuk besok ya! Dan tolong tepat waktu, ingat jam satu ya! Tolong kamu koordinir teman-temanmu juga ya!"

"Okay Mr. Jangan kawatir!"

Kemudian setelah berbasa-basi cukup lama. Pembicaraan ini berubah menjadi percakapan yang berkelas. Tentang kesuksesan dan saling memotivasi. Entah dari mana percakapan ini tumbuh. Awalnya hanya biasa-biasa saja. Seperti yang aku tahu percakapan antara dua orang memang sulit untuk berhenti. Bak lalu lintas disiang hari.

"Habiskan kegagalan mu di waktu muda. Berusaha dan terus berusaha. Jangan pernah takut untuk mencoba. Jadi bunuhlah kemalasan. Kamu lihat tokoh-tokoh besar. Ia belajar dari kegagalan. Memperbaiki dan terus memperbaiki kesalahan. Tapi kita dapat belajar dari mereka. Jika bisa langsung berhasil mengapa tidak?"

Aku menatapnya lamat-lamat, Mr. Ismed balas menatapku menjelaskan dengan intonasi meyakinkan. Tangannya reflek mengikuti ucapannya. Seperti yang kita tahu itulah efek samping dari meresapi apa yang dilakukan. Aku mengangguk-angguk pelan. Pertanda mengerti apa yang ia ucapkan. Semangat berkobar menyala kembali.

"Okay Mr. I will do it!", seperti biasanya aku membalasnya bersemangat. Dengan pelafalan yang agak sengau-sengau. Belum cukup lancar pronoun ku. (Cukuplah cerita malam itu)

Kamis, 14 Mei 2015

Malam Selat Bali!

Malam itu menjadi malam yang bisa di bilang mengesankan. Ya, cukup mengesankan jika dibanding malam-malam biasanya. Jam tanganku menunjuk pukul 11.47 itu berarti tiga belas menit kedepan adalah tengah malam. Sampai saat ini sedikitpun aku tidak merasakan kantuk, malah sebaliknya badan masih terasa segar seperti pada waktu pagi. Dimana aku baru saja terbangun dari tidur ku.

Mungkin saja itu karena malam ini adalah malam pertamaku berlayar meninggalkan Jawa untuk beberapa hari kedepan. Dua perasaan yang kini hinggap menyelimutiku. Dan saling bertolakan satu sama lainnya. Itu adalah rasa cemas dan riang. Bukankah itu saling bertolakan kawan?

Baru saja Bus yang kunaiki berhenti. Kami, aku dan 45 kawanku terpaksa harus turun. Lantas berjalan kaki menuju ujung pelabuhan. Meskipun ada beberapa anak yang terseok-seok, itu tidak lain karena rasa kantuk. Kami tetap saja berjalan saling beriringan. Pelan dan tetap bersama-sama bagai keluarga besar.

Angin laut terlalu dingin untuk menggelayuti tubuh kurus keringku. Dingin sekali angin laut malam ini. Mengalir melalu sela-sela diantara kami. Kawan-kawanku riang. Beberapa mendekap tubuh mereka masing-masing. Mencoba mengusir dingin yang menancap. Lainnya memeluk selimut, atau semacam selendang yang dikenakan layaknya selimut di Bus tadi. Itulah anak perempuan.

"Hey lihat anak itu!", salah satu temanku mengacungkan tangannya ke tepi pelabuhan. Ya tuhan elok sekali pemandangan di depan ku. Anak-anak kecil berenang. Menyelam kedasar lautan. Lalu beberapa saat muncul lagi kepermukaan. Sambil mengangkat tangan. Menunjukkan koin yang dilempar tadi berhasil ditemukan. Mereka gesit, sigap, mengejar koin yang dilemparkan para penumpang kapal saat melintas jembatan dari pelabuhan ke kapal.

Ramai sekali suasana ujung pelabuhan. Dipenuhi orang yang berbondong-bondong kekapal. Atau di bawah kapal ada beberapa orang berjaket tebal sedang mengatur kendaraan masuk kapal. Sedang kawan-kawanku masih riang melihat anak tadi. Beberapa melempar koin lima ratusan rupiah. Lantaran Ingin melihat atraksi itu lagi.

Aku semakin cemas juga bertambah riang. Cemas karena apa? Karena ini adalah kali pertama aku naik kapal. Aku takut ada apa-apa dengan kapal ini. Bagaimana kalau kapal tiba-tiba tenggelam? Bagaimana kalo mesinnya tiba-tiba mati di tengah lautan? Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan teman-teman ku nantinya? Bagaimana jika? Haduh Puluhan pertanyaan membuatku mengernyitkan jidat. Membuat kepalaku pening. Pertanyaan itu begitu saja muncul ketika sebentar lagi aku harus menjejakkan kaki di kapal. Tapi di sisi lain aku juga riang ingin sekali tahu rasanya naik kapal. Ingin sekali tahu eloknya memandang lautan di malam hari. Juga memandang rasi bintang-gemintang di atas sana.

Bagaimana ini naik apa tidak? Batinku semakin bergejolak. Peluh-peluh di mukaku mulai menyembul. Helaan napas beriringan dengan degup jantung yang semakin cepat. Beberapa kawanku telah berada di atas kapal. Melambaikan tangan kearahku. Riang. Mengajakku untuk cepat naik.

Ya Tuhan semoga Engkau senantiasa melundungi kami. Aku menghela napas untuk kesekian kalinya. Seraya berdoa dalam batin. Meminta perlindungan-Nya. Memasrahkan semua kecemasan pada-Nya. Allah Tuhan yang memelihara semesta. Tempat dimana umatnya memohon dan berlindung.

###

Kini aku tepat berada di atas kapal. Menjejakkan kaki di atas lantai kapal. Menatap wajah-wajah riang. Di atas sini. Beberapa yang lain tengah sibuk berfoto. Mengambil gambar suasana laut di malam hari. Mengabadikan momen dalam jepretan kamera. Kami berada tepat di atas kapal paling tinggi. Dimana ruang kemudi kapal berada tepat di pinggirku.

Malam selat bali! Lihatlah pemandangan pelabuhan yang sungguh elok. Beberapa kapal sibuk berlabuh. Menurunkan barang. Beberapa lagi tengah beranjak meninggalkan pelabuhan melewati selat bali. Persis kapal yang kutumpangi ini. Bintik-bintik berkilauan terlihat dari kejauhan. Itu tidak lain adalah puluhan lampu di Bali.

Kapal perlahan meninggalkan pelabuhan menuju Bali. Tenang, ombak malam ini bisa di bilang cukup tenang. Goncangan-goncangan kecil tidak begitu berkesan. Terimakasih Tuhan.

Aku begitu senang malam ini. Tengah malam di selat bali. Beserta teman-teman baikku. Salah satu teman mengajakku berfoto saat ini.

Selasa, 12 Mei 2015

Sunrise di Tanah Lot

Pintu didepanku dari tadi tak henti-hentinya di pukul. Digedor-gedor dari luar. Aku bisa membayangkan dari gemuruh percakapan di luar. Pastinya ada lebih dari satu orang mungkin tiga sampai lima orang tengah antri didepan pintu toilet masing-masing.

Toilet umum ini telah ramai meskipun hari masih terlalu pagi. Bahkan matahari belum berkenan menunjukkan batang hidungnya. Hanya ada cahaya fajar yang beranyaman dengan kelabunya langit di atas sana. Itu artinya sekarang masih terlalu pagi untuk mengajak anjing jalan-jalan.

Badanku sudah terasa segar. Diguyur air dari pulau dewata. Saatnya keluar dari toilet umum lantas menghirup segarnya udara pagi di Tanah Lot. Tentunya beserta kawan-kawanku sekelas.

Aku terbelalak usai membuka pintu toilet. Sedikit terheran-heran antrian membludak memenuhi lorong. Puluhan orang berdiri mengantri didepan pintu setiap toilet sambil membawa peralatan mandinya masing-masing. Tidak terkecuali teman sekasku pun ada yang tengah mengantri.

Lantas aku bergegas meninggalkan toilet. Mempersilahkan pengantri tadi sebelum beranjak pergi. Aku berjalan di depan para pengantri pelan agak membungkuk pertanda aku memberi hormat. Dan sedikit jail ketika berjalan didepan kawanku sendiri. Menciprati mukanya dengan air. Tapi itu hanya becanda kawan tidak lebih.

Aku sudah tidak sabar menghirup udara pantai. Menikamati keindahan sunrise bersama deburan ombak di pantai di Tanah Lot. Aku sudah membayangkan berbagai macam keindahan yang akan kutemui disana. Berbagai macam rencana sudah tersusun apik dibenakku. Entah sejak kapan aku telah mempersiapkannya. Yang pasti sebentar lagi itu akan terwujud.

Iya tepatnya kini kami tengah berbondong-bondong ber empat puluh enam, berjalan melintasi jalan setapak berpaving. Disamping kanan dan kiri jalan berjejer-jejer toko souvenir bali. Rumah makan. Juga pelayanan jasa. Tak jarang di beberapa depan toko souvenir. Seekor anjing tengah duduk sambil menjulur-julurkan lidah. Beruntungnya si anjing terikat lehernya.

Nyanyian-nyanyian khas bali terdengar mengalun lirih dari beberapa toko. Nyaman sekali terdengar ditelinga. Hari ini langit agak kelabu tertutup mendung. Jalanan remang kawan. Tapi tak mengurangi suasana yang nyaman.

Allahu Akbar. Indahnya pantai-Mu. Nikmat mu memang tak terhitung jumlahnya. Kini didepanku telah terhampar lautan beserta seribu keindahannya.

Jumat, 08 Mei 2015

Poster Untuk Kartini

Kursi-kursi biru saling berhimpitan satu sama lain melingkar membentuk huruf U. Satu dua anak mulai berdatangan lantas duduk di salah satu kursi yang mereka sukai. Ruang aula seluas kurang lebih 9 x 10 meter yang beberapa saat lalu lengang. Kini di penuhi anak-anak berseragam putih. Laki-laki perempuan serempak berdatangan memasuki ruangan. Sambil membawa crayon, pensil warna, dan tentunya, kerabatnya juga ikut.

Mereka bergegas mengambil tempat duduk di aula. Lantas menunggu untuk beberapa menit. Instruksi dari panitia terdengar lebih dari jelas. Keluar dari loudspeaker yang berdiri di dua sudut depan aula.

Iya, boleh dibilang ini adalah kali kedua aku ikut dalam lomba menggambar poster di kampusku. Mewakili kelas. Bukan kerena aku pandai dalam menggambar, suka menggambar, apalagi berbakat. Tapi karena tak ada lagi yang mau mewakili kelasku. Jadi tak ada rasa bangga sedikitpun melekat pada benakku. Biasa saja kawan. Mungkin itu yang lebih cocok mewakili perasaanku jika ditanya bagaimana rasanya.

Terpaksa? Tidak juga. Sesuai dengan motto hidup. Selalu melakukan sebaik yang dapat di lakukan. Iya, itulah yang dapat kulakukan saat ini untuk mewakili kelasku. Meskipun setahun yang lalu aku gagal dalam perlombaan yang serupa dengan saat ini. Tapi aku cukup bangga, setidaknya aku tidak mengalah sebelum berperang.

Aula semakin meriah. Orang-orang berbaju putih mendominasi di sini. Alunan music DJ menghentak-hentak mengisi setiap sudut ruang. Disampingku duduk anak perempuan sambil memangku kotak crayon. Mengucapkan ciss! Ketika kilatan cahaya mencuat dari kamera digitalku. Iya, sekarang dia sedang difoto. Ah tidak tepatnya dia dan aku sedang difoto teman perempuan kami. Ruangan menjadi riang sekali. Anak-anak lainya saling bercengkrama, sesekali terdengar canda tawa mereka. Aku rasa tak ada satu orang pun di ruang ini yang tengah berduka. Aku juga tidak. Tapi tidak terlalu riang juga. Mungkin lebih tepatnya biasa saja.

Jam yang menggantung di dinding depan tepat menunjuk pukul 01.30 lantas panitia mempersilahkan untuk memulai lombanya. Kini kami telah duduk dilantai. Di depan kami tergelar kertas manila seukuran sembilan lembar kertas A4 dan di sekitarnya alat-alat tulis beserta crayon tergeletak sembarangan.

Partner ku sudah memulai menggambar dari tadi. Meskipun ia terlihat kurang yakin dengan gambarnya. Sesekali goresan pensil yang hampir membentuk gambar wajah, Ia hapus beberapa bagian. Mungkin karena terlihat kurang sempurna baginya. Tapi aku kira gambarnya tak ada yang salah. Ia sudah mulai bekerja dengan alat tulisnya memeluk kertas manila didepannya. Berjibaku dengan imajinasi yang harus terbatas waktu. Waktu sudah dimulai beberapa menit lalu. Dan aku masih merasa kebingungan. Apa yang harus kulakukan. Otak kananku serasa mati tak ada sedikitpun insting seni yang keluar. Ya tuhan! Waktu semakin habis.

Detik demi detik, menit demi menit mulai berguguran. Aku masih kebingungan mengamati temanku sedang bekerja. Beberapa tim lain pun sudah sibuk dengan kerjaannya. Memulai proses menggambar. Sibuk menggoreskan pensil. Juga crayon ke kertas manila yang berada didepan meraka masing-masing.

Keraguannku tak kunjung lenyap. Aku tak yakin mampu menggambar padahal biasanya jari-jariku ringan untuk disuruh menggambar. Ah sudahlah. Berat sekali. Aku mulai memaksa. Menggoreskan pensil. Meskipun sesekali aku menghapusnya. Kina kami mulai bekerjasama.

Yah, ternyata tidak terlalu buruk. Kami sudah mulai leluasa. Menikmati saat-saat menyelesaikan gambar kami. Dan akhirnya waktu usai. Begitu juga dengan poster kami. Cantik sekali. Di salah satu sudutnya tertera tanda tangan kami. Peringatan hari kartini. Dengan poster berjudul Kartini, utamakan ASI, untuk Si bayi.

Senin, 04 Mei 2015

Diguyur Perundang-undangan

Sudah 168 jam lamanya Aku berkutat dengan materi-materi yang ada sangkut pautnya dengan pasal-pasal, ayat-ayat, bab-bab, serta Perpres, Inpres, atau apalah itu yang kesemuanya berbau peraturan perundang-undangan. Otak serasa dibebat kemudian dijerat dengan tali yang di ujungnya di beri bandul seberat puluhan kilo. Sudah pasti berat sekali. Ingin rasanya sejenak kubenamkam kepalaku pada bantal yang nyaman. Ya Tuhan pasti enak sekali rasanya.

Tapi didepanku tumpukan materi tentang pasal-pasal itu masih membukit. Kira-kira masih ada lima puluh lembar folio lagi yang harus ku libas malam ini. Aku hanya bisa menghela napas. Menilik secara teliti kata demi kata yang tak kunjung habis.

Suasana kamarku lengang. Beberapa jam yang lalu kedua orang tuaku telah beranjak memejamkan mata. Begitu juga dengan dua saudaraku. Adik dan kakakku. Mungkin mereka sudah terlalu lelah karena rutinitas harian yang tak ada henti-hentinya. Tentu saja itu sekolah. Hanya sejenak berhenti jika angka di kalender yang bersandar di dinding berwarna merah.

Aku kembali menyeka dahiku. Mengusir keringat yang menyembul. Mencoba mengumpulkan kembali semangatku yang kebanyakan telah berserakan di tempat tidurku. Kembali meraih satu bendel materi. Membacanya di bawah sinar lampu belajar yang menyilaukan mata. Jika tak ada lampu pijar ini mungkin dari tadi kepalaku sudah tersandar tak sadar pada meja belajar didepanku ini. Huh...lampu ini selalu bisa mengusir rasa kantukku. Meskipun leher bagian belakangku mulai terasa nyeri.

Setidaknya Aku juga harus bersyukur. Semua ini akibat peristiwa yang terjadi setahun lalu. Aku dan tiga orang temanku berhasil menjuarai sebuah kompetisi cerdas cermat perkoperasian tingkat kabupaten. Aku masih ingat. itu adalah buah manis dari usaha yang telah kami lakukan.

"Good job!","Congratulation!"," selamat kawan!", ucapan banyak orang yang kami temui. Mereka tersenyum riang sambil manjabat tangan kami kemudian mengayunkan beberapa kali keatas dan kebawah. Aku pun sedikit terheran-heran, tidak menyangka atas keberhasilan ini. Semua itu jelas karena ikhtiar dan doa yang tak henti-hentinya kulayangkan pada-Nya tiap waktu. Alhamdulillah. Terimakasih atas nikmatmu Ya Allah.

Dan hari ini adalah pertanggung jawaban dari peristiwa setahun lalu. Dua hari lagi terhitung dari malam ini Aku dan kedua temanku harus mewakili kabupaten Lamongan untuk mengikuti lomba di tingkat Provinsi. I'm coming Surabaya! Sorak-sorai dalam benakku malam ini. Di tengah kelelah-letihan tubuhku.

Biarlah, Aku harus berusaha terlebih dahulu baru menerima hasilnya. Malam ini semakin lengang di kamarku. Suara derik puluhan katak terdengar lamat-lamat diluar sana. Sudah tiga hari ini Lamongan di guyur hujan deras. Sedangkan aku sudah dua minggu lebih di guyur perundang-undangan. Dua jam lagi mungkin aku baru bisa terlelap.