Rabu, 10 Juni 2015

My Adventure Today

Pagi ini sungguh mendebarkan. Semalaman Aku resah. Tidur pun tak nyenyak rasanya. Persepsiku mulai terpusat pada satu permasalahan. Bisa dibilang Aku tengah mengidap ansietas ringan.

Ketika matahari mulai menampakkan ujung kepalanya diatas garis cakrawala ujung timur saat itulah Aku semakin menjadi-jadi. Aku mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tak terperikan. Mulai dari tumpangan, jalan, serta tempat yang kutuju nanti. Aku buta semua itu. Ini adalah kali pertama Aku pergi sendiri ke kota besar macam Surabaya.

Aku menghela napas berkali-kali. Gelisah, banyak sekali masalah yang menumpuk dalam penat. Tak mungkin kuceritakan satu-persatu kawan. Sebab tak terlalu penting jika kau tahu. Tak ada faedahnya secuilpun untukmu kawan. Ditambah pagi ini Aku harus berangkat ke Surabaya. Mengikuti pelatihan Management Mahasiswa di kantor Kopertis 7.

Sekali lagi Aku harus bersyukur. Seorang yang biasa kupanggil Mister bersedia memboncengku ke tempat tujuan. Satu masalah terselesaikan. Aku boleh sedikit relax.

Perjalanan naik motor dari Lamongan ke Surabaya. Lancar-lancar saja. Cuaca pun kiranya agak mendukung. Matahari melaksanakan tugasnya dengan baik. Awan-awan berjejer tipis-tipis di sekitarnya. Motor bebek yang kami pun demikian, Ia mengemban tugas dengan baik. Tak rewel sedikitpun. Dengan lincah Ia meliuk-liuk di antara padatnya lalu lintas jalanan kota. Truk-truk yang besarnya amit-amit pun penampakannya juga. Jauh dari potongan rapi alias dekilnya minta ampun. Berkali-kali menepis motor kami. Sial nian truk-truk itu! Pekikku dalam hati.

Soal lalu lintas Alhamdulillah kami selamat sampai tujuan. Masalah berikutnya aku terlambat menghadiri acara. Dari kejauhan dapat kulihat dari balik kaca yang samar-samar. Empat puluhan peserta sudah duduk takzim di kursi masing-masing. Aku agak gamang dengan pemandangan ini. Aku lihat seorang wanita setengah baya yang duduk di depan pintu masuk menatapku sinis. Seakan aku telah berbuat dosa besar. Apa maksudnya ini kawan?...

Senin, 08 Juni 2015

Dibarengi Dengan Keyakinan

Pertama, saya ingin berkisah tentang kejadian tadi sore. Sebuah hasil yang diperoleh dari setumpuk perjuangan nan berbalut harapan.

Satu minggu terakhir ini, urusannya semakin pelik. Tugas kuliah yang semakin rimbun beriringan dengan deadline tugas UKM. Sehingga saya harus membagi waktu untuk keduanya. Disinilah baru saya tahu bahwa tabiat waktu sangat kejam. Ia tak pernah diam menunggu orang pemalas.

Waktu terasa seperti berlari. Sedangkan persiapan tugas UKM. Baru berjalan 25% ketika deadline tinggal lima hari lagi. Mau tidak mau kami harus rela pulang malam. Antara pukul 21.00 sampai pukul sembilan lebih sedikit. Hanya untuk melakukan persiapan sebagus mungkin.

Kami dituntut untuk saling bertoleransi. Yaitu lebih mementingkan tujuan kelompok dari pada urusan individu. Dari sini tak jarang kami saling cek-cok. Adu mulut satu sama lainnya. Karena sifat manusia yang cenderung ingin menang sendiri, berselisih paham adalah hal yang biasa terjadi.

Waktu tak pernah berhenti. Deadline pun semakin dekat. Serasa satu jengkal didepan mata. Itu artinya kami harus cepat mematangkan persiapan. Memikirkan hal remeh-temeh yang mungkin bisa mengacaukan penampilan di hari H nanti. Memperbaiki segala kekurangan-kekurangan.

Tapi ketika deadline tinggal satu hari. Entah kenapa rasanya kami tidak yakin. Merasa pesimis. Merasa selalu kurang. Merasa absurd dengan semua yang kita lakukan selama seminggu lamanya. Padahal kita telah melakukan semaksimal mungkin. Tapi pikiran negatif tak kunjung pergi dari mindset kami.

Beberapa saat kemudian saya teringat film Kungfu Panda. Ketika Sang Kesatria Naga, Poo. Dengan penasarannya membuka gulungan yang diberikan Shifu padanya usai menjalani latihan sulit dari Shifu. Ia tercengang ketika membuka gulungan itu tidak ada isinya apa-apa. Hanya terlihat bayangan wajahnya sendiri. Padahal Ia berharap menemukan sesuatu di dalamnya yang akan mengangkat dirinya sebagai seorang Ksatria Naga sungguhan.

Apa arti semua itu kawan? Bayangan wajah Poo berarti kepercayaan diri. Semua usaha, harapan akan sulit terwujud ketika kita sendiri tidak percaya bahwa kita bisa. Tidak yakin terhadap usaha yang baru saja dilakoni. Akhirnya berkat sebuah usaha, harapan yang dibarengi keyakinan. Kami mendapatkan hasil yang diluar dugaan.

Sabtu, 06 Juni 2015

Cerita Guru SMP

Aku masih ingat betul ketika masih duduk dibangku SMP. Selama tiga tahun Aku harus pulang pergi mengayuh sepeda. Sedang jarak rumah ke sekolah kurang lebih tujuh kilometeran. Jadi sehari harus mengayuh sepeda sejauh empat belasan kilometer. Tapi sedikit pun saya tak pernah mengeluh.

Apa alasannya saya kuat melakoni semua itu? Banyak sekali kawan. Salah satunya yang paling mengesankan adalah cerita dari guru-guruku yang baik hati. Cerita kawan, bukan soal ceramah pelajaran yang seringkali membosankan.

Meskipun pelajaran Matematika terkadang materi yang dibawakan jauh menyimpang dari teori-teori matematika. Bukan tentang Phytagoras, juga bukan tentang Al Kwarizmi, yang ada seluk beluknya dengan Matematika. Tapi tentang murid-muridnya dulu yang telah menjadi orang yang dianggapnya hebat.

Aku masih ingat betul wajah bangga guruku sewaktu menceritakan murid-muridnya yang telah berhasil pada kami. Tentang muridnya yang masuk PTN. Atau yang tengah bekerja di perusahaan besar. Guruku bangga sekali menceritakan pada kami waktu itu. Saking bangganya sampai-sampai cerita yang pernah diceritakan Ia ulangi berkali-kali sesuka hati.

Mungkin alasan Beliau menceritakan kesuksesan pada kami, tidak lain karena tingkah kami mirip peranakan setan. Pekerjaannya terlambat, tidak mengerjakan tugas, tak acuh ketika pelajaran sedang berlangsung. Bahkan ada yang sungguh keterlaluan. Tidur, membenamkan kepala di atas meja kayu seolah tidur diatas empulnya bantal.

Itulah kawan kelakuan anak yang tak tahu diuntung. Maka cerita-cerita dari guruku itu berhasil menyembuhkanku dari sifat kesetan-setananku. Aku harap nanti Beliau berkenan menceritakanku pada murid-muridnya kelak. Diruang kelas dan waktu yang tak pernah Aku tahu. Bukan tentang kabar burukku tapi tentang kabar baikku.

Aku tercenung beberapa hari yang lalu. Sehingga teringat masa itu. Terkadang pendidikan tak selalu harus disesali dengan teori atau rumus-rumus yang nian pelik urusannya. Tapi terkadang cerita-cerita yang syarat hikmah pun perlu disampaikan. Cerita-cerita seperti itu bisa jadi akan membentuk kepribadian murid. Bahkan mungkin juga akan memacu semangat murid untuk mengejar kesuksesan.

Rabu, 03 Juni 2015

Seminar Mas Haidar Musyafa (copy SPN)

📜RESUME NGOBIS 📜

Ngobrol Bareng Penulis with Mas Haidar Musyafa

📝 Tema

Inspirasi dahsyat Menulis Novel Sampai Tuntas


Rabu, 4 Juni 2015
20.00-21.30

Materi :

Haidar Musyafa: Tips menulis novel yang terpenting soal plot mas

Jadi dalam nulis novel itu tidak sekadar main imajinasi karena harus didukung oleh logika

Lebih berat lagi nulis novel biografi tokoh. Jadi tak bolh banyak main imajinasi. Tapi keakuratan data dan logika. Juga kepekaan rasa. Itu yg pnting buat nulis novel biografi

Talk Show :

pertanyaan :

Anitri :
Dalam naskah non fiksi dibutuhkan referensi yang banyak. Bagaimana dengan dalil yang diambil dari berbagai buku pastinya sama karena dalil asalnya dari alquran yang ga mungkin berubah. Itu bisa disebut plagiat atau bukan kak? Misal buku dengan tema sama pastinya dalilnya juga sama. Apakah gaya bahasa bisa menjadi pembeda antara satu buku dengan buku lainnya kak atau kita bisa variasikan dengan dalil2 yang belum pernah diungkap sebelumnya?

Jawaban :

Mbak Anintri. Yang disebut plagiat itukan jika kita mengambil tulisan orang lain atau merubah tulisan orang lain dengan tanpa mnyebutkan sumbernya.

Soal pengambilan dalil, usahakan jangan ambil dari buku. Tapi langsung merujuk ke kitab suci alquran atau hadis, kitab tafsir atau sarah. Sehingga lebih akurat.

Alasannnya (sepanjang pengalaman selama ini) dalil yang dikutip dalam buku itu belum tentu sesuai dengan kaidah di kitabnya. Tapi jika buku tersebut diterbitkan oleh penebit yang benar2 islami, yg bnar2 mempehatikan kaidah penguyipan dalil yang bnar silakan
Jika kita ambil sama persis di buku orang tanpa sebut sumber itu pasti plagiat mbak anitri

Felicia :

Pertanyaan :

Hai Mas Haidar. Mau tanya, pendeskripisan suasana dalam sebuah adegan itu penting sekali atau tidak? Sedetil apa si penulis bisa menceritakan suasana di sekitar tokoh agar pembaca tak bosan? Hmmm lalu menurut mas penulisan dialog yg baik itu gimana?
Soalnya sy agak kesulitan untuk menuliskan dialog, mnrt saya kadang dialog saya trll bertele2. Minta saran penulisan dialog yg efektif tuh gmn.
Dimohon kesediaannya untuk menjawab. 🙇

Jawaban :
Mbak Felli, setting dalam adegan novel itu sangat penting. Hanya saja, jangan dideskripsikan secara keterlaluan. Misal menggambarkan ruangan ya dideskripaikan saja yang sekiranya mendukung dengan ekspresi dan suasana para tokoh yang terlibat.

Sebab banyak penulis novel yang sring deskripsikan setting scara berlebihan sehingga jomplang.

Untuk mngatasi agar pembaca tidak bosan ya setting dirubah2 mbak. Jangan monoton. Suasana juga. Misal sedih, senang ,ke cawa, khawatir, marah, tegang dll

Feedback :
Iyaaa mas. Sama pertanyaan yg tentang dialog itu, apakah ada teknik khusus supaya dialognya bs efisien?

Iya benar mbak felli. Usahakan dialoq itu jangan terlalu bertele2

Jadi usahakan jalan cerita itu seimbang. Tidak cepat juga tidak lama. Sedang saja. Dan usahakan pembaca penasaran saat kita hendak berganti setting, atau pindah bab

Cicilia

Pertanyaan :
Mas haidar. Jika kita mengambil sebagian dari bbrp deskripsi yg pernah dipakai di tulisan org lain apa iti termasuk plagiat?

Mas, bisa tlg kasih contoh gak utk deskripsi? Misal ruangan yg indah dipenuhi cahaya lampu.
Krn kelemahan saya dideskripsi... masih datar aja. 🙈

Jawaban :

Mbak cici. Jika mengambil tanpa merubah itu jelas plagiat.

Contoh:
Jorong Koto Gadang Mudiak. Disalah satu sudut paling belakang dari kampung itu ada sebuah bangunan rumah sederhana bergaya kolonial yang berdiri dengan gagah. Tanaman2 perdu mengjiasi setiap sisi rumah. Halaman rumah bagian belakang cukup luas dan langsung berbatasan dengan Ngarai Sampik dan bersambung lagi dengan Ngarai Sianok....

Khadijah :

Pertanyaan :
Sebaiknya bikin novel i2 banyak bab isinya sedikit2 atau babnya sedikit tp gemuk?sy lg coba bkin novel, rancangannya sih babnya sedikit biar isinya aja dibanyakin, tp trnyt pas eksekusi dlm 1 bab paling mentok kurang dr 10 lembar, mau dgemukin malah gk tw mw ngisi apaan lg😝...mhon pencerahannya bang haidar

Jawaban :

Mbak  khadijah, alangkah baiknya jika diseimbangkan. Misal satu bab 10 lembar dan dibagi mnjadi lima adegan (cut) tiap dua lembar. Tujuannya jelas, agar pembaca tak lelah

Cici :

Oh.. brarti klo ada yg kita ubah, bukan plagiat kan mas?
Maksud saya bukan di karyanya... misal hanya 1 kalimat  yg kita suka.
Trus kita terinspirasi dr kalimat itu. Bisa jadi kita pakai kalimat itu utk dsekripsi tulisan kita, tp ada yg dirubah...
Klo gtu gmn, mas?
Maaf ya, mas.. byk tnya.
Soalny bbrp org yg saya tny agak berbeda2 jawabnny.
🙈

Jawaban:
Mbak cici. Meski satu kalimat tapi jika ditulis persis sbaiknya jangan. Jika dideskripaikan sendiri silakan

Helmi:

Pertanyaan :

untuk "menghidupkan" tokoh sebuah novel atau cerpen apakah mesti pakai sudut pandang orang pertama? Soalnya ketika ana buat sudut pandang 2 atau 3, kurang nusuk tokohnya mas

Terus terkait kondisi nuansa dan lingkungan, apakah sepertinya kita memang harus terjun ke lingkungan yang ingin kita ciptakan agar novel kita lebih terasa lingkungan yang tercipta? Ex: menggunakan latar Sumbar

Jawaban :

Helmi👉 sebenarnya sudut pandang pertama dan ketiga sama saja. Masing masing ada kelebihan dan kkurangan. Sudut pandang pertama kelebihannay kita bisa lebih menjiwai tokoh karena dengan menggunakan kata aku atau saya seakan akan kita jadi sang tokoh. Sedangkan sudut pandang ketiga kita bisa lebih bebas mengekspresikan yokoh karena kita ibaratnya seorang dalang yang sedang memainkan wayang, yang jalan ceritanya bebas akan kita bawa ke mana.

Kekurangan sudut pandang pertama biasanya ego akan lwbih besar main di sana. Sedang sudut pandang ketiga kelemahannya kita jadi kurang menjiwai masing2 tokoh.

Sebaiknya kita mmang melihat langsung tempat yang akan kita jadokan sebagai setting novel mas. Itu lbih mendekatkan kita pada kebenaran. Kecuali novel fantasi itu bebas

Husna :

Pendapat :
Sulit juga ya pak. Kalo tiba tiba kita kasih Tulisan kita ke penerbit ternyata ada kalimat yang sama😅 di tuduh plagiat

Feedback :
Mbak Husna 👉👉 gak gitu juga kok mbak

🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Demikianlah resume ngobis kali ini.

Salam Penulis,

@PkWriterpreneur

Seminar Mas Haidar Musyafa (copy SPN)

📜RESUME NGOBIS 📜

Ngobrol Bareng Penulis with Mas Haidar Musyafa

📝 Tema

Inspirasi dahsyat Menulis Novel Sampai Tuntas


Rabu, 4 Juni 2015
20.00-21.30

Materi :

Haidar Musyafa: Tips menulis novel yang terpenting soal plot mas

Jadi dalam nulis novel itu tidak sekadar main imajinasi karena harus didukung oleh logika

Lebih berat lagi nulis novel biografi tokoh. Jadi tak bolh banyak main imajinasi. Tapi keakuratan data dan logika. Juga kepekaan rasa. Itu yg pnting buat nulis novel biografi

Talk Show :

pertanyaan :

Anitri :
Dalam naskah non fiksi dibutuhkan referensi yang banyak. Bagaimana dengan dalil yang diambil dari berbagai buku pastinya sama karena dalil asalnya dari alquran yang ga mungkin berubah. Itu bisa disebut plagiat atau bukan kak? Misal buku dengan tema sama pastinya dalilnya juga sama. Apakah gaya bahasa bisa menjadi pembeda antara satu buku dengan buku lainnya kak atau kita bisa variasikan dengan dalil2 yang belum pernah diungkap sebelumnya?

Jawaban :

Mbak Anintri. Yang disebut plagiat itukan jika kita mengambil tulisan orang lain atau merubah tulisan orang lain dengan tanpa mnyebutkan sumbernya.

Soal pengambilan dalil, usahakan jangan ambil dari buku. Tapi langsung merujuk ke kitab suci alquran atau hadis, kitab tafsir atau sarah. Sehingga lebih akurat.

Alasannnya (sepanjang pengalaman selama ini) dalil yang dikutip dalam buku itu belum tentu sesuai dengan kaidah di kitabnya. Tapi jika buku tersebut diterbitkan oleh penebit yang benar2 islami, yg bnar2 mempehatikan kaidah penguyipan dalil yang bnar silakan
Jika kita ambil sama persis di buku orang tanpa sebut sumber itu pasti plagiat mbak anitri

Felicia :

Pertanyaan :

Hai Mas Haidar. Mau tanya, pendeskripisan suasana dalam sebuah adegan itu penting sekali atau tidak? Sedetil apa si penulis bisa menceritakan suasana di sekitar tokoh agar pembaca tak bosan? Hmmm lalu menurut mas penulisan dialog yg baik itu gimana?
Soalnya sy agak kesulitan untuk menuliskan dialog, mnrt saya kadang dialog saya trll bertele2. Minta saran penulisan dialog yg efektif tuh gmn.
Dimohon kesediaannya untuk menjawab. 🙇

Jawaban :
Mbak Felli, setting dalam adegan novel itu sangat penting. Hanya saja, jangan dideskripsikan secara keterlaluan. Misal menggambarkan ruangan ya dideskripaikan saja yang sekiranya mendukung dengan ekspresi dan suasana para tokoh yang terlibat.

Sebab banyak penulis novel yang sring deskripsikan setting scara berlebihan sehingga jomplang.

Untuk mngatasi agar pembaca tidak bosan ya setting dirubah2 mbak. Jangan monoton. Suasana juga. Misal sedih, senang ,ke cawa, khawatir, marah, tegang dll

Feedback :
Iyaaa mas. Sama pertanyaan yg tentang dialog itu, apakah ada teknik khusus supaya dialognya bs efisien?

Iya benar mbak felli. Usahakan dialoq itu jangan terlalu bertele2

Jadi usahakan jalan cerita itu seimbang. Tidak cepat juga tidak lama. Sedang saja. Dan usahakan pembaca penasaran saat kita hendak berganti setting, atau pindah bab

Cicilia

Pertanyaan :
Mas haidar. Jika kita mengambil sebagian dari bbrp deskripsi yg pernah dipakai di tulisan org lain apa iti termasuk plagiat?

Mas, bisa tlg kasih contoh gak utk deskripsi? Misal ruangan yg indah dipenuhi cahaya lampu.
Krn kelemahan saya dideskripsi... masih datar aja. 🙈

Jawaban :

Mbak cici. Jika mengambil tanpa merubah itu jelas plagiat.

Contoh:
Jorong Koto Gadang Mudiak. Disalah satu sudut paling belakang dari kampung itu ada sebuah bangunan rumah sederhana bergaya kolonial yang berdiri dengan gagah. Tanaman2 perdu mengjiasi setiap sisi rumah. Halaman rumah bagian belakang cukup luas dan langsung berbatasan dengan Ngarai Sampik dan bersambung lagi dengan Ngarai Sianok....

Khadijah :

Pertanyaan :
Sebaiknya bikin novel i2 banyak bab isinya sedikit2 atau babnya sedikit tp gemuk?sy lg coba bkin novel, rancangannya sih babnya sedikit biar isinya aja dibanyakin, tp trnyt pas eksekusi dlm 1 bab paling mentok kurang dr 10 lembar, mau dgemukin malah gk tw mw ngisi apaan lg😝...mhon pencerahannya bang haidar

Jawaban :

Mbak  khadijah, alangkah baiknya jika diseimbangkan. Misal satu bab 10 lembar dan dibagi mnjadi lima adegan (cut) tiap dua lembar. Tujuannya jelas, agar pembaca tak lelah

Cici :

Oh.. brarti klo ada yg kita ubah, bukan plagiat kan mas?
Maksud saya bukan di karyanya... misal hanya 1 kalimat  yg kita suka.
Trus kita terinspirasi dr kalimat itu. Bisa jadi kita pakai kalimat itu utk dsekripsi tulisan kita, tp ada yg dirubah...
Klo gtu gmn, mas?
Maaf ya, mas.. byk tnya.
Soalny bbrp org yg saya tny agak berbeda2 jawabnny.
🙈

Jawaban:
Mbak cici. Meski satu kalimat tapi jika ditulis persis sbaiknya jangan. Jika dideskripaikan sendiri silakan

Helmi:

Pertanyaan :

untuk "menghidupkan" tokoh sebuah novel atau cerpen apakah mesti pakai sudut pandang orang pertama? Soalnya ketika ana buat sudut pandang 2 atau 3, kurang nusuk tokohnya mas

Terus terkait kondisi nuansa dan lingkungan, apakah sepertinya kita memang harus terjun ke lingkungan yang ingin kita ciptakan agar novel kita lebih terasa lingkungan yang tercipta? Ex: menggunakan latar Sumbar

Jawaban :

Helmi👉 sebenarnya sudut pandang pertama dan ketiga sama saja. Masing masing ada kelebihan dan kkurangan. Sudut pandang pertama kelebihannay kita bisa lebih menjiwai tokoh karena dengan menggunakan kata aku atau saya seakan akan kita jadi sang tokoh. Sedangkan sudut pandang ketiga kita bisa lebih bebas mengekspresikan yokoh karena kita ibaratnya seorang dalang yang sedang memainkan wayang, yang jalan ceritanya bebas akan kita bawa ke mana.

Kekurangan sudut pandang pertama biasanya ego akan lwbih besar main di sana. Sedang sudut pandang ketiga kelemahannya kita jadi kurang menjiwai masing2 tokoh.

Sebaiknya kita mmang melihat langsung tempat yang akan kita jadokan sebagai setting novel mas. Itu lbih mendekatkan kita pada kebenaran. Kecuali novel fantasi itu bebas

Husna :

Pendapat :
Sulit juga ya pak. Kalo tiba tiba kita kasih Tulisan kita ke penerbit ternyata ada kalimat yang sama😅 di tuduh plagiat

Feedback :
Mbak Husna 👉👉 gak gitu juga kok mbak

🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Demikianlah resume ngobis kali ini.

Salam Penulis,

@PkWriterpreneur

Kepergian Beliau

Innalillahi wa inailaihi rojiun. Satu kalimat yang patut Saya ucapkan dalam hati. Saat sedang membaca majalah Matan edisi Mei. Karena berbagai alasan, saya baru membacanya ketika sudah habis bulan majalah itu. Ada berita duka yang dimuat didalamnya. Seorang kiai yang juga penulis produktif telah pergi meniggalkan kita.

Adalah seorang K.H Muammal Hamidy, Beliau telah pergi untuk selamanya. Saya tercengang ketika tahu bahwa beliau lahir di Lamongan. Sebab itu adalah kota yang saya tinggali dari kecil sampai sekarang. Saya sangat bangga sebab Lamongan menjadi tempat kelahiran beliau, seorang tokoh agama yang berpengaruh di jawa timur.

Beliau adalah sebagian kecil dari kiai yang produktif menulis. Menyampaikan ilmunya dalam bentuk-bentuk tulisan yang kemudian dibukukan. Dalam majalah itu menyebutkan bahwa beliau rajin sekali berdakwah dan menulis. Beliau juga merupakan penerjemah bebagai buku.

Kita patut berduka atas kepergian beliau. Dijaman yang semakin modern ini, kepergian beliau merupakan pukulan telak bagi umat. Kita semakin kemiskinan jumlah ustadz. Kepergian beliau juga merupakan cambukan bagi umat. Agar senantiasa belajar dan terus belajar memperdalam ilmu agama.

Dijaman yang semakin modern ini kepergian K.H. Muammal Hamidy menambah kemiskinan jumlah kiai bagi bangsa ini. Utamanya bagi Jawa timur. Harus merelakan dengan ikhlas kepergian seorang tokoh agama. Yang gemar menebarkan ilmu lewat tulisan juga dakwah.

Saya hampir terenyuh sekaligus kagum ketika membaca perjuangan beliau selama hidupnya. Beliau adalah seorang pekerja keras. Ketika menikah beliau memulai semuanya dari nol. Menjadi pengasuh berbagai majalah yang berbau islami tak cukup untuk membiayai hidupnya. Pernah beliau tak jadi berkhutbah dalam sholat jumat lantaran beberapa hari terakhir beliau belum makan.

Pernah suatu saat beliau sedang sakit, masih saja tetap menghadiri undangan untuk berdakwah. Beliau menyembunyikan penyakitnya dari sepengetahuan kelaurganya. Sungguh luar biasa semangat untuk berdakwah beliau. Pernah juga suatu ketika beliau harus berhutang lantaran tak punyai biaya untuk menghadiri undangan dakwah di surabaya. Sampai segitunya perjuangan beliau untuk menyampaikan ilmu-ilmu nya.

Semangat menulisnya pun tak pernah padam. Bahkan ada buku beliau yang diterjemahkan ke bahasa lain. Beliau juga menjadi penjawab dalam kolom tanya jawab islam di berbagai majalah.

Dari sini dapat kita tarik pelajaran bahwa semangat belajar haruslah selalu terpacu. Dan pantang menyerah meskipun berkali-kali menuai kesulitan. Kepergian beliau merupakan suatu tantangan bagi generasi selanjutnya untuk senantiasa belajar memperdalam ilmu agama. Semoga kepergian beliau menjadi cambuk bagi generasi selanjutnya untuk lebih baik lagi kedepannya. Amin!

Selasa, 02 Juni 2015

Kepedulian

Tidak banyak orang yang memilih peduli jika ada orang lain yang kesusahan. Memilih tak acuh karena banyak pertimbangan yang lebih dulu dipikirkan. Pastinya tidak mudah bagi beberapa orang untuk rela mengulurkan tangan tanpa ada imbalan yang akan diperoleh. Hanya menolong ketika tahu ada imbalannya. Jika tidak, lebih memilih berdiam saja dibanding merepotkan diri untuk sesuatu yang kurang jelas.

Yang sering membuat orang mengurungkan niat untuk peduli adalah persepsi yang salah. Selalu memprioritaskan keuntungan dalam setiap tindakan. Seorang laki-laki tidak akan membantu perempuan jika tidak ada keuntungan yang diperolehnya. Banyak sekali macam keuntungan itu, misalkan  Si laki-laki ingin berkenalan dengan perempuan tadi. Atau Si laki-laki punya niatan lain yang bisa membuatnya puas. Itupun bisa dikatakan keuntungan.

Coba saja ketika ada seorang remaja laki-laki melihat nenek tua tengah kesusahan menggendong barang yang amat berat dan dari raut mukanya, nenek itu sangat membutuhkan bantuan. Saya berani bertaruh, meskipun Si laki-laki tadi melihat secara jelas dengan mata kepalanya sendiri. Lantaran memprioritaskan keuntungan. Si laki-laki tadi hanya akan bersikap masa bodoh.

Apa coba yang bisa didapat dari nenek tua. Uang banyak? Lihat saja dandanannya! Bajunya saja compang camping, sandal jepit yang beda satu sama lainnya. Terlihat lusuh pula.

Kita selalu merasa direpotkan ketika ada orang yang meminta pertolongan. Merasa terbebani ketika ada sesuatu yang harus dikerjakan diluar kehendak kita. Jika tidak didasari dengan rasa ikhlas, semua perbuatan baik seperti menolong tadi hanya akan membuat rasa sesak didada. Lantaran ketidak ikhlasan.

Perlu kita tahu bahwa banyak orang-orang sukses disekitar kita yang lebih memprioritaskan mean dari pada keuntungan. Orang-orang seperti ini dalam masa mudanya lebih mementingkan pencarian arti dibanding pencarian materi. Sehingga setiap tindakannya dilakukan tanpa dasar keuntungan. Orang seperti demikian banyak kita jumpai dalam suatu oraganisasi sosial. Jadi tindakannya berdasar atas rasa kemanusiaan.

Yang kurang kita ketahui selama ini adalah lebih berharganya ikatan dibanding materi. Kenapa demikaian? Seperti ini kawan, bukannya sok tahu ya sebelumnya. Tapi coba renungkan sejenak. Jika kita hanya mencari materi dalam setiap tindakan, ya sudah kalian hanya akan dapat materi itu saja. Alasan itulah yang membuat orang memutuskan hubungan dengan perusahaan lantaran di gaji rendah dan memilih mencari perusahaan lain yang mau menggajinya lebih tinggi.

Tapi jika kita menjaga ikatan atau relasi, punya banyak teman dimana-mana, semua itu yang akan membawa kita pada kemudahan kelak di kemudian hari. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di kemudian hari. Jika kita banyak berlaku baik. Seperti hukum karma, kebaikan pun akan berbalik pada kita kelak. Begini kawan, kita tidak pernah menyangka bahwa orang yang kita tolong sebelumnya akan balik menolong nantinya semua itu karena kita punya ikatan. Dia tidak akan segan-segan membantu. Jadi semakin banyak ikatan akan semakin banyak pula bantuan yang datang. Jika kita peduli pada orang lain, orang lain pun akan peduli pada kita. Jika kita peduli pada lingkungan, lingkungan pun akan peduli pada kita. Ingat timbal balik akan selalu berlaku.